KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Imlu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menunjukkan peran aktifnya dalam penguatan kesehatan ternak rakyat melalui program pengabdian masyarakat (Pengmas) strategis. Berkolaborasi dengan Asosiasi Parasitologi Veteriner Indonesia (APARVI), kali ini sinergi UNAIR menjangkau peternak kambing dan sapi Desa Secang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Pengajar parasitologi dari sebelas Kampus Kedokteran Hewan di Indonesia turun langsung mengedukasi, sekaligus mendengar keluh kesah peternak di desa tersebut.
Baca juga: APARVI dan FIKKIA UNAIR Kolaborasi dalam Lokakarya Nasional Parasitologi Veteriner
Pengmas yang dilaksanakan pada Jumat, (31/10/2025), ini berfokus pada pemberian wawasan mendalam mengenai bahaya parasit pada hewan ternak. Bahaya ini merupakan ancaman serius yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan bagi peternak. Ditandai dengan menurunnya kondisi kesehatan ternak yang berdampak pada menurunnya produksi daging, susu, hingga kasus fatal berupa kematian hewan.

Fokus Edukasi Scabies dan Cacingan
Pengabdian masyarakat dihadiri 50 orang peternak setempat. Prof. Dr. Poedji Hastutiek, drh., M.Si., memberikan materi seputar bahaya dan bagaimana penanganan scabies pada ternak. Scabies atau kudis disebabkan tungau Sarcoptes scabiei yang hidup di bawah lapisan kulit.
“Scabies menimbulkan rasa gatal yang mengganggu kesejahteraan satwa tetapi juga menurunkan kualitas dan nilai jual produk ternak secara drastis.” Ungkap Guru Besar lmu Penyakit dan Kesehatan Masyarakat Veteriner di Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR
Ternak yang menderita scabies memiliki tanda klinis munculnya kerak di permukaan kulit, gatal, disusul kerontokan bulu, dan kulit yang menjadi tebal dan kaku.
Cacingan juga menjadi penyakit yang kerap ditemui pada ternak. Dr. drh. Dwi Priyowidodo, M.P., menyebutkan, peternak dapat mengetahui gejala klinis cacingan. Pada umumnya ternak berbadan kurus, berbulu kusam, mengalami diare atau sembelit, dan penurunan nafsu makan.
Dr. Dwi menyebutkan pemberian obat cacing secara berkala 3-4 bulan efektif cegah cacingan pada ternak, terlebih pada ternak sehat. Tujuannya memutus siklus hidup cacing sebelum infeksi berkembang. Dosen Parasitologi Veteriner Universitas Gadjah Mada itu menegaskan, diperlukan strategi penanganan yang tepat, mengingat cacingan dapat menghambat pertumbuhan ternak dan efisiensi pakan.
Kolaborasi Kemitraan Jangka Panjang
Di akhir kegiatan, para peternak menyampaikan harapan besar agar pengmas tidak berhenti pada edukasi. Mereka berharap UNAIR dan APARVI dapat memberikan bantuan berupa obat-obatan serta turut memperkenalkan dan mempromosikan produk-produk hasil ternak Desa Secang.
Menanggapi permintaan tersebut, perwakilan APARVI menyatakan komitmennya untuk berupaya penuh dalam memfasilitasi pemenuhan harapan peternak. Kolaborasi FIKKIA UNAIR dan APARVI menjadi langkah awal menuju kemitraan jangka panjang untuk peningkatan kesejahteraan peternak rakyat.
Penulis: Avicena C. Nisa
Editor: Tasya Ramadhan
