KABAR FIKKIA – Mastitis subklinis menjadi momok yang menghantui peternak kambing perah. Penyakit yang menyerang kelenjer susu tersebut dapat menurunkan produksi susu, serta kesakitan luar biasa pada ambing ternak. Mencegah hal itu terjadi, Prodi Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR mengadakan pelatihan deteksi dini mastitis subklinis. Pelatihan diikuti oleh 15 peternak kambing perah Desa Telemung, Kalipuro, Banyuwangi, Jumat (09/05/2025) di UD Karya Etawa Farm. Mastitis subklinis merupakan tipe mastitis yang tidak menunjukkan gejala klinis.
Pelatihan bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak dalam mendeteksi mastitis subklinis menggunakan California Mastitis Test (CMT), demi menjaga kesehatan ternak dan meningkatkan produksi susu kambing.

Kalipuro dipilih sebagai lokasi pelatihan karena merupakan salah satu dari lima kecamatan dengan populasi kambing terbanyak di Banyuwangi. Berdasarkan sensus Badan Pusat Statistik Banyuwangi 2020, ada sekitar 14.000 ekor kambing dan domba. Desa Telemung, yang berada di Kalipuro, bahkan memiliki populasi sekitar 6.000 ekor kambing perah. Peternakan kambing di sana rata-rata memproduksi susu 2000 liter per hari. Menjadikan Desa Telemung memiliki potensi besar ini menjadikan Kalipuro sebagai kawasan prioritas dalam pengembangan peternakan kambing perah.
Pelatihan Deteksi Dini Mastitis Subklinis
Ketua panitia, Faisal Fikri, drh., M.Vet., menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. “Melalui pelatihan ini, kami ingin peternak mampu mengenali mastitis subklinis sejak dini sehingga dapat melakukan pencegahan dan pengobatan yang tepat,” ujarnya.
Sebagai pemateri, Prima Ayu Wibawati, drh., M.Si., menjelaskan bahwa mastitis subklinis adalah peradangan pada ambing yang tidak menimbulkan gejala nyata sehingga sulit dideteksi tanpa pemeriksaan khusus.
“CMT merupakan metode yang mudah, ekonomis, dan efektif untuk mendeteksi mastitis subklinis pada kambing perah. Jika ambing sudah tampak meradang, maka tes ini tidak diperlukan karena mastitis klinis sudah dapat dikenali secara kasat mata,” jelasnya.

Pelatihan dilakukan secara interaktif. Diawali pretest untuk mengukur pengetahuan peserta, lalu dilanjutkan dengan pemaparan materi dan melakukan uji CMT di kandang. Peserta diajarkan teknik pengambilan sampel susu yang benar dan cara membaca hasil tes.
Arya Agung, salah satu peserta, mengaku pelatihan ini sangat bermanfaat. “Saya jadi lebih paham cara mendeteksi mastitis subklinis. Setelah pelatihan ini, saya lebih percaya diri merawat kambing agar tetap sehat dan produksi susunya optimal,” ujarnya.
Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan kemampuan peternak dalam menjaga kesehatan ternak melalui deteksi dini penyakit, sekaligus memperkuat posisi Kalipuro sebagai sentra kambing perah di Banyuwangi.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-15 Life on Land, dan ke-17 Partnerships for the Goals
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa
