KABAR FIKKIA – Meningkatkan kolaborasi, FIKKIA Universitas Airlanga melaksanakan pengabdian masyarakat bersama Pasca Sarjana Universitas Udayana pada Sabtu (08/06/2024). Agenda kegiatan ini adalah pelestarian penyu dan edukasi kesehatan lingkungan di Pantai Pulau Santen Banyuwangi.
Kegiatan ini dihadiri oleh Dosen Prodi kesehatan Masyarakat FIKKIA Unair, Susy Katikana Sebayang, S.P., M.Sc., PhD dan Dosen Prodi Kedokteran Hewan FIKKIA Unair, Aditya Yudhana, drh., M.Si. Serta pimpinan pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. Eng. Ni Nyoman Pujianiki, ST., MT., M.Eng, IPM beserta jajarannya.
Selain dua universitas, kegiatan ini berkolaborasi dengan Yayasan Wasterlaken di Bali, Indonesia. Yayasan tersebut merupakan organisasi non-profit yang bergerak dalam bidang konservasi lingkungan.

Penanaman 20 bibit pandan laut di sebelah utara pulau mengawali rangkaian pengabdian masyarakat. Seluruh peserta melakukan penanaman yang dipimpin langsung oleh Kodim Banyuwangi selaku pengelola lahan. Selain itu terdapat beberapa tanaman yang masih dilestarikan di pesisir Pantai Pulau Santen yaitu kekara laut (Canavalia rosea), katang-katang (Ipomoea pes-caprae), dan rumput lari-lari.
Pertahankan diversitas tanaman alami pantai
Prof. Ir. Ida Ayu Astarini, M.Sc., PhD selaku Kepala Program Studi S2 Ilmu Lingkungan Universitas Udayana menyampaikan bahwa keberadaan tiga tanaman tadi sangat berperan dalam mempertahankan ekosistem alamiah Pantai Pulau Santen. Akarnya menjalar ke dalam tanah mampu mempertahankan dan mengikat tanah yang ada di bawahnya, sehingga bermanfaat mencegah abrasi pantai
“Saya senang, di sini ketiganya masih ada. Bisa disampaikan ke masyarakat untuk mempertahankan tanaman tersebut” sahut beliau saat diwawancarai oleh tim jurnalis FIKKIA Unair.
Dosen pascasarjana ilmu lingkungan tersebut menerangkan, banyak pantai di Bali sudah kehilangan fungsi ekologisnya. Pantai lebih difungsikan untuk kegiatan pariwisata, tranportasi, dan pembangunan sehingga rentan terhadap kerusakan alam dan lingkungan.

Diambil dari berbagai sumber
“Kita lihat disini, ada mangrove, cemara udang, pandan laut, waru, santen, ketepeng, katang-katang, kekara laut, hingga tanaman lari-lari, bisa kita jumpai dengan mudah. Ini harus dipertahankan masyarakat dan stake holder yang bertanggung jawab disini” kata Prof. Ida
Ekosistem yang homogen (serupa) lebih rentan keberadaannya. Beliau juga menjelaskan jika ekosistem hanya ada mangrove saja, ketika ada penyakit atau hama tanaman akan lebih cepat mewabah karena tidak ada tumbuhan resilien lainnya. Lain cerita apabila tumbuhannya beragam. Akan ada peran tumbuhan lain sebagai penghambat penyebaran penyakit tumbuhan.

Agenda selanjutnya yaitu diskusi dan konsultasi upaya pelestarian penyu oleh Yayasan Westerlaken dengan masyarakat pesisir pantai. Pelestarian penyu berbasis pemberdayaan masyarakat sehingga mereka mampu mengelola pelestarian ini secara mandiri. Kegiatan pengabdian masyarakat dilanjutkan dengan cek kesehatan dan permainan anak-anak.
Acara berlangsung dengan lancar, harapannya seluruh pihak yang terlibat dapat terus menjaga kestabilan lingkungan dan menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Pantai Pulau Santen.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-3 Good Health and Well Being, ke-14 Life Below Water, ke-15 Life on Land dan ke-17 Partnership for the Goals
Penulis: Aqila Fawzia
Editor: Avicena C. Nisa
