KABAR FIKKIA – Komunikasi efektif menjadi aspek penting dalam penyampaian informasi dan pelayanan pariwisata. Masyarakat sebagai pelaku pariwisata dituntut memiliki kemampuan komunikasi publik untuk daya tarik wisatawan. Melihat kebutuhan akan keterampilan tersebut, NYUBRIK FIKKIA UNAIR melakukan pengabdian masyarakat pada Sabtu (12/10/2025) di Pulau Santen. 25 warga yang hadir mengikuti pembekalan komunikasi pelayanan wisata bersama Jebeng Thulik Banyuwangi 2024.
Thulik Ken Affila Syach Maulana dan Jebeng Mutiara Ramadhania merupakan Duta Pariwisata Banyuwangi. Jebeng Mutiara dan Thulik Ken memberikan materi seputar komunikasi dan sikap profesional memberikan pelayanan kepada wisatawan
”Kemampuan berbicara dengan jelas, bersikap sopan, dan membangun keakraban tanpa kehilangan profesionalitas menjadi kunci utama dalam menciptakan pengalaman wisata yang menyenangkan.” ujar Thulik Ken.
Dalam sesi tersebut, Jebeng Thulik Banyuwangi juga memperkenalkan konsep komunikasi SA-CIP, panduan sederhana yang mudah diterapkan oleh pelaku wisata, yaitu:
Senyum dulu, akrabkan suasana, ceritakan keunikan, informasikan dengan jelas, pamitan dengan kesan baik.
Konsep SA-CIP ini menjadi bekal bagi masyarakat Pulau Santen untuk membangun interaksi yang ramah, komunikatif, dan menciptakan citra wisata yang baik. Masyarakat diharapkan dapat menyapa wisatawan dengan hangat, memperkenalkan keunikan Pulau Santen. Meninggalkan kesan positif yang meninggalkan pengalaman menyenangkan bagi pengunjung.
Duduk Bersama dalam Focus Group Discussion
Pulau Santen menjadi tempat kegiatan edukasi sekaligus wisata di Banyuwangi. Wisatawan dapat melakukan eduwisata konservasi dengan melepas tukik, membuat ecobrick bersama warga lokal, serta menikmati keindahan Selat Bali di area camping ground bersama orang tercinta.
Di Focus Group Discussion (FGD) warga juga berdiskusi bagaimana menyambut wisatawan yang datang berkunjung.
Melalui kegiatan ini, peserta dan masyarakat berdiskusi aktif mengenai cara mengembangkan potensi wisata Pulau Santen dengan pendekatan komunikasi dan partisipasi lokal.

Tak hanya berdiskusi, peserta juga diminta melakukan wawancara langsung kepada pengunjung Pulau Santen guna mengetahui kesan mereka terhadap destinasi wisata ini. Selama kegiatan berlangsung, sebagian besar peserta terlihat berani dan aktif mencoba berkomunikasi dengan pengunjung, meskipun masih ada beberapa yang tampak malu-malu saat berbicara langsung. Momen ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mempraktikkan materi komunikasi wisata yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Salah satu pengunjung, Fani, menyampaikan pendapatnya tentang pantai pulau santen, “Pantai Pulau Santen kulinernya murah, harga tiketnya juga terjangkau. Tempatnya sejuk, bersih, dan banyak wahana untuk anak-anak.”
Dengan pembekalan ini, warga Pulau Santen diharapkan mampu menjadi tuan rumah yang hangat bagi wisatawan, serta terus mengembangkan potensi wisata daerahnya melalui komunikasi yang baik, beretika, dan berkesan.
Kegiatan dalam artikel ini merupakan penerapan nilai-nilai SDGs poin ke-17 Partnerships for the Goals
Penulis: Ananda Herlina Ramadhani
Editor: Avicena C. Nisa
