FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Pengmas Prodi Akuakultur Ajak Pembudidaya Lele Muncar Kenali Penyakit Jaundice

KABAR FIKKIA – Tim dosen Akuakultur Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi, melaksanakan program pengabdian masyarakat kepada 25 warga yang tergabung dalam Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Karya Mina Lele. Pengmas dilaksanakan Selasa (17/02/2026) di salah satu rumah warga di Desa Sumber Bening, Muncar. Kegiatan ini bertujuan membantu pembudidaya ikan lele dalam menangani wabah penyakit kuning (jaundice) yang sedang menyerang ternak lele di daerah tersebut.

Kegiatan juga dihadiri Ketua POKDAKAN Karya Mina Lele, Sony Mahendra, dengan partisipasi aktif warga pembudidaya setempat.

Ajak Pembudidaya Kenali Penyakit Kuning Lele

Ketua sekaligus pemateri utama pengmas Maria Agustina Pardede, S.Pi., M.Si. menyampaikan penyakit kuning yang terjadi akhir akhir ini pada POKDAKAN Karya Mina Lele. Banyak ikan yang mati sebelum panen, sehingga menyebabkan kerugian ekonomi nyata bagi pembudidaya.

“Gejala klinis meliputi kulit dan organ dalam berwarna kekuningan, perut buncit dan keluar mata, serta kematian ikan yang tinggi,” jelas Maria.

Ia juga menambahkan bahwa jaundice berhubungan erat dengan kualitas air yang buruk dan malnutrisi, serta infeksi bakteri patogen yang menyebabkan kerusakan organ hati dan sistem imun ikan.

“Infeksi bakteri patogen ditemukan berdasarkan hasil uji ada tiga genus bakteri, yaitu Achromobacter xylosoxidans, Aeromonas hydrophila, dan Aeromonas veronii,” tambahnya.

Sanitasi Baik Cegah Penyakit Kuning

Pencegahan penyakit jaundice berkaitan dengan sanitasi dan mutu air. Oleh karenanya, pemateri kedua Mohammad Faizal Ulkhaq, S.Pi., M.Si., deteksi dini lingkungan perairan budidaya. Pemeriksaan dan perbaikan mutu air secara berkala, pemberian pakan berkualitas, pergantian rutin air, dapat mencegah kejadian jaundice. Faisal menambahkan, pembudidaya perlu menyediakan kolam karantina, khusus menampung ikan ikan yang sakit agar tidak menyebarkan virus.

“Biosecurity adalah sistem pencegahan untuk menghindari masuk atau menyebarnya penyakit ke dalam unit budidaya, sedangkan sanitasi berfokus pada kebersihan lingkungan budidaya untuk mengurangi patogen dalam kolam,” jelas Faisal.

Ia juga menekankan pentingnya pemantauan parameter kritis seperti suhu ideal, pH, DO, dan amonia.

“Penyakit ini memang belum ada obatnya, tapi kita bisa mencegahnya,” tegas Faisal.

Dalam sesi diskusi, warga antusias bertanya mengenai cara pembersihan kolam yang benar. Sony bertanya tentang prosedur pembersihan yang tepat, dan Faisal menjawab bahwa pembersihan dapat dilakukan dengan menggosok dasar kolam menggunakan alat dan bahan pembersih yang biasa digunakan sehari-hari, demikian pula pada aerator dan pipa.

Sesi diskusi bersama warga. Sumber: Istimewa

Tim pengmas juga menyediakan dan memberikan peralatan pendukung berupa kit, sepatu boots, dan baju mari untuk keperluan pembudidaya dalam mencegah dan mengontrol kolam. Kegiatan ini tidak hanya sosialisasi, tetapi juga akan melakukan monitoring kolam untuk beberapa bulan ke depan.

Diadakannya sosialisasi ini, kami jadi mengetahui cara pencegahan kasus ikan lele kuning di daerah kami”. Ungkap peserta, Pak Wan.

Kolaborasi antara akademisi dan pembudidaya ini diharapkan mampu memutus rantai kerugian ekonomi akibat wabah lele kuning, serta pemberdayaan masyarakat perikanan

Penulis: Nirmala Sagita

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *