FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Pentingnya Standar ASUH dan Thoyyib dalam Pengelolaan Hewan Kurban

KABAR FIKKIA – Menjelang Hari Raya Idul Adha, masyarakat dan panitia kurban perlu memahami manajemen pengelolaan hewan kurban yang sesuai standar. Drh. Zhaza Afililla, M.Si., dosen dan praktisi kesehatan hewan FIKKIA UNAIR Banyuwangi, menekankan bahwa daging hewan kurban yang layak konsumsi harus memenuhi prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) serta Thoyyib. Untuk memastikan hal ini, diperlukan pemeriksaan antemortem sebelum penyembelihan dan postmortem setelah penyembelihan

Kurban yang Sehat dan Aman

Pemeriksaan antemortem meliputi pengecekan fisik menyeluruh, seperti kondisi tubuh, cara berjalan, kulit, kuku, dan usia hewan sesuai syariat (sapi minimal dua tahun, kambing atau domba minimal satu tahun). Sementara itu, pemeriksaan postmortem menitikberatkan pada kondisi daging dan organ dalam. Jika telah memenuhi kriteria ASUH dan Thoyyib, daging kurban dapat didistribusikan ke masyarakat.

Dosen bidang peternakan itu menegaskan peran vital dokter hewan dalam memastikan daging layak konsumsi. Mulai dari deteksi parasit hingga memastikan hewan bebas penyakit. Penilaian dokter hewan menjadi standar utama kelayakan daging kurban, demi kesehatan masyarakat dan menjaga nilai ibadah kurban.

Drh. Zhaza Afililla, M.Si.

Dalam persiapan, panitia dan masyarakat harus menyediakan lahan yang memadai untuk pemeliharaan, penyembelihan, pengolahan daging, dan pengelolaan limbah. Kandang harus bersih, pakan dan minum tersedia hingga sesaat sebelum penyembelihan, serta area penyembelihan sebaiknya terpisah dari kandang untuk menghindari stres pada hewan lain. Area pengolahan daging harus bersih dan kering, serta limbah tidak boleh dibuang sembarangan, melainkan dapat diolah menjadi kompos, pakan, atau dimanfaatkan untuk biogas jika ada fasilitas.

Pemberian makan dan minum dilakukan secara ad libitum hingga sebelum penyembelihan, dan proses penyembelihan harus dilakukan di area terpisah dengan teknik yang meminimalisir rasa sakit agar kualitas daging tetap terjaga.

Jika penanganan tidak sesuai standar, risiko penularan penyakit zoonosis meningkat dan daging bisa tidak memenuhi kaidah ASUH dan Thoyyib. Tantangan terbesar di lapangan adalah penerimaan masyarakat terhadap hasil pemeriksaan dokter hewan, terutama jika ditemukan penyakit, sehingga butuh dukungan dinas terkait dan edukasi berkelanjutan.

Drh. Zhaza mengimbau masyarakat untuk memahami prinsip ASUH dan Thoyyib serta pentingnya higiene dalam pengolahan daging kurban agar kualitas daging yang dikonsumsi tetap terjaga dan aman bagi semua. Dengan pemahaman dan penerapan yang baik, ibadah kurban dapat terlaksana dengan aman, sehat, dan sesuai dengan syariat Islam.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *