FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Peserta OJT CMU Pelajari Teknik Penyelamatan Lumba-Lumba dan Penyu

KABAR FIKKIA – Peserta On Job Training (OJT) dari Central Mindanao University (CMU), Filipina, mengikuti kegiatan perkuliahan selama dua hari bersama drh. Deny Rahmadani, M.Si. Praktisi dokter hewan yang berpengalaman dalam penanganan satwa akuatik, khususnya lumba-lumba dan penyu rescue sekaligus supervisor dan manajer dokter hewan di Jakarta Animal Aid Network (JAAN). Kegiatan ini berlangsung Senin-Selasa (29–30/5/2025) di Ruang Sidang, Kampus Giri bersama PPDH FIKKIA tahun kedua 2025-2026.

Penanganan medik satwa liar selalu menjadi penekanan dalam setiap pembelajaran di Prodi Kedokteran Hewan dan Pendidikan Profesi Dokter Hewan. Hal ini sesuai dengan tujuan FIKKIA untuk turut melahirkan Dokter Hewan andal yang terampil.

Pembekalan materi diberikan drh. Deni kepada 16  mahasiswa yg hadir. Materi terkait teknik penyelamatan lumba-lumba terdampar serta prosedur nekropsi apabila satwa tersebut ditemukan dalam kondisi mati. Ia menekankan pentingnya penanganan yang tepat untuk menjaga peluang hidup satwa akuatik tersebut.

“Saat menemukan lumba-lumba terdampar, kita harus pastikan kondisinya masih memungkinkan untuk diselamatkan. Jangan terlalu banyak menyentuh, jaga lubang sembur tetap terbuka, dan pastikan suasana tidak bising agar tidak menambah stress” jelas drh. Deny sambil menyimulasikan

Simulasi evakuasi lumba-lumba terdampar. Sumber: Istimewa

Ia menambahkan, sebenarnya nekropsi dilakukan jika satwa ditemukan dalam keadaan mati, karena lumba-lumba termasuk satwa liar yang dilindungi. Prosedur ini bertujuan mengetahui penyebab kematian yang bisa berkaitan dengan aktivitas manusia, serangan predator, atau sebab alami.

“Proses nekropsi yang benar menjadi penting untuk mengungkap penyebab kematian dan sebagai dasar evaluasi untuk konservasi jangka panjang,” tambahnya.

Pada hari kedua, topik perkuliahan beralih ke penanganan penyu terdampar dan teknik nekropsi yang sesuai. Penyu memerlukan penanganan khusus dengan menggunakan tandu agar siripnya tidak tertekuk atau cedera. Penyu jantan dewasa juga lebih mudah stres di daratan, sehingga harus segera dilepaskan kembali ke perairan. Karena penyu memiliki tempurung yang keras, proses nekropsi memerlukan alat khusus untuk memotong bagian plastron. Hal ini penting agar kita bisa mengamati kondisi organ dalam dengan jelas dan menyeluruh terang.

Para peserta OJT tampak aktif selama kegiatan berlangsung. Mereka mengikuti simulasi penyelamatan satwa akuatik dengan semangat dan penuh rasa ingin tahu. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta tentang konservasi dan penanganan satwa akuatik terdampar, tetapi juga memberikan pengalaman praktis yang sangat berharga dalam dunia kedokteran hewan internasional.

Penulis: Hanifa Khansa Khairunnisa

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *