Setelah beberapa tahun ini Indonesia mengalami musim kemarau basah dan hujan dengan curah air yang tinggi. Peristiwa El Nino diproyeksikan akan menerjang kawasan indonesia mulai pertengahan tahun 2023 hingga 2024. El nino sendiri merupakan kondisi pemanasan suhu muka air laut di bagian tengah Samudera Pasifik melebihi temperatur normalnya. Walaupun skala kejadiannya dengan intensitas lemah, pemanasan tersebut meningkatkan potensi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik bagian tengah. Namun akan menurunkan tingkat curah hujan di kawasan daratan. Peristiwa tersebut menjadikan musim kemarau semakin kering dan musim hujan dengan minim terjadinya hujan.
Dengan curah hujan yang rendah di area daratan tersebut berpotensi dalam berkurangnya ketersediaan air dan terjadinya suhu tinggi. Produksi pertanian dan rumput sebagai pakan ternak pun dapat menurun seiring dengan menurunnya curah hujan tersebut. Terjadinya kekeringan dapat menjadi paceklik bagi peternak di Indonesia bila tidak dihadapi dengan antisipasi yang tepat. Untuk memastikan hewan ternak tetap dapat produktif dan sehat, peternak harus memastikan ternaknya mendapatkan haknya antara lain:
Pastikan Lingkungan Tinggal Hewan Tetap pada Rentang Suhu Normal
Hewan dengan kondisi paparan panas berlebih dapat menyebabkan kondisi stres atau lebih dikenal lewat sebutan heat stress. Melansir laman Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, kondisi thermoneutral atau suhu lingkungan yang dibutuhkan sapi agar tidak membutuhkan energi tambahan untuk mendinginkan atau menghangatkan badan adalah sekitar 20 hingga 21 °C. Suhu normal pada sapi adalah 38.6-38.9°C, namun dapat mencapai titik kritis apabila suhu badannya 41,7°C. Jika melebihi suhu tersebut sapi akan mengalami kondisi stroke akibat tidak dapat mempertahankan tekanan darahnya secara normal.
Dengan suhu yang tinggi, ternak sapi akan merasa tidak nyaman, menurunkan nafsu makan, dan produksinya akan terus menurun. Bahkan jika usia ternak masih dikategorikan sebagai pedet (berusia 0 hingga 8 bulan) dapat mengalami hambatan pertumbuhan. Pada Cuaca yang sangat panas, sapi dapat mengalami penurunan berat badan dan energinya akan terkuras untuk mendinginkan badan lewat metode bernafas yang terengah-engah.
Perlu diketahui, secara fisiologis ternak sapi dengan ukuran sangat besar lebih rentan mengalami stres panas. Karena perototan yang dimiliki akan menghasilkan panas dengan jumlah yang lebih banyak daripada dengan sapi yang memiliki massa otot kecil. Oleh karena itu, peternak harus memastikan suhu kandang tetap berada pada rentang normal bagi ternaknya dengan cara sebagai berikut:
- Penambahan blower dan kipas angin. Salah satu kunci untuk mengurangi hawa panas yang timbul di dalam kandang adalah memastikan sirkulasi udara kandang berjalan dengan baik. Penambahan fasilitas blower atau kipas angin akan meningkatkan sirkulasi udara kandang berjalan lebih baik. Selain menurunkan suhu lingkungan di area kandang, pernafasan sapi juga menjadi lebih mudah. Dalam pemasangan kedua hal tersebut, perlu diperhatikan kecepatan angin dan arah aliran yang harus sesuai dengan kondisi sekitar kandang.
- Struktur Kandang beratap. Atap dapat menjadi tempat berlindung sapi dari terik matahari. Kandang yang sudah memiliki atap secara keseluruhan menjadi pilihan yang paling baik untuk mengatasi cuaca terik. Pada tipe kandang umbaran terbuka, secara alamiah hewan ternak akan mencari tempat dengan intensitas terik matahari yang minim untuk tempat berlindungnya. Sehingga pemasangan atap menjadi pilihan bagi peternak untuk mengakomodasi kebutuhan sapinya. Ukuran minimum atap yang diperlukan dapat menyesuaikan dengan jumlah populasi yang tersedia. Pastikan bahan atap kandang yang digunakan tidak menyerap panas. Hindari penggunaan seng dan asbes, tapi peternak dapat memilih seperti genting, rumbai, maupun jerami yang tidak menyebabkan panas.
Amankan Ketersediaan Minum Ternak
Air merupakan penyusun fisiologi terbesar pada makhluk hidup yaitu sebesar 70%. Air berfungsi sebagai pengatur suhu tubuh, membantu proses pencernaan hingga ekskresi fisiologis. Dengan suhu yang panas, maka hewan ternak akan lebih cepat membuat haus. Suhu tinggi juga berpotensi menimbulkan dehidrasi pada ternak yang mengganggu metabolisme ternak akibat kurangnya konsentrasi air dalam tubuh. Sehingga persediaan air dengan baku mutu yang baik harus terus dijaga kuantitasnya untuk memenuhi kebutuhan sapi.
Secara kualitas pastikan kondisi air tersebut pada rentang pH normal (±7). Untuk peternakan yang berada di daerah kapur, hindari penggunaan air dari sumur dengan kadar kapur yang tinggi secara terus menerus. Karena berpotensi menimbulkan masalah pencernaan pada ternak. Peternak dapat memenuhi kebutuhan cairan untuk kebutuhan ternaknya dengan mencari sumber air baru dan melakukan penyimpanan di musim penghujan.
- Membuat Sumur Artesis. Sumur artesis menjadi sumber air yang berkualitas dibandingkan dengan sumur tanah biasa. Untuk mendapatkan air artesis dari sumber bawah tanah bervolume banyak, Peternak hanya perlu pengeboran dengan kedalaman yang disesuaikan dengan keadaan geologi dan elevasi wilayah tersebut. Namun tetap harus diperhatikan bahwa penggunaan sumur artesis juga harus dapat dipertanggungjawabkan. Demi keberlanjutan keberadaan air bawah tanah di masa yang mendatang dan tetap menjaga kondisi tanah tidak mengalami penurunan berlebih.
- Membuat Penyimpanan Air. Selama musim hujan berlangsung, peternak dapat menampung air untuk disimpan sampai waktu mendatang. Kapasitas penampung air disesuaikan dengan kebutuhan sapi yang diternakkan. Semakin banyak sapi, maka semakin besar kapasitas air yang dibutuhkan. Peternak dapat memanfaatkan kolam penampung, ember, hingga tangki air. Persediaan tersebut akan membantu peternak dalam mencukupi kebutuhan air minum ternaknya. Sehingga apabila terjadi kemarau panjang, pengeluaran dalam pembelian air dari pihak luar dapat dikurangi.
Siapkan Pakan Alternatif
Hingga saat ini, peternak di Indonesia sebagian besar masih bergantung dengan pakan hijauan segar alam seperti rumput. Namun di masa kekeringan, produksi rumput akan menurun akibat rendahnya intensitas hujan ataupun mengalami kebakaran. Sebagai sumber energi utama, peternak tetap harus memastikan persediaan pakan ternaknya mencukupi kebutuhan. Pengolahan rumput maupun pakan alami
- Pakan Fermentasi. Pakan fermentasi merupakan pengolahan pakan hijauan dengan cara pengawetan fermentasi dan dapat disimpan mulai 3 hingga 6 bulan dari proses pembuatan di dalam tempat penyimpanan. Pakan fermentasi memanfaatkan proses anaerob mengubah karbohidrat menjadi asam laktat yang menghasilkan nisin sebagai pengawet alami. Yang harus diperhatikan adalah tata penyimpanan pakan fermentasi, untuk menghindari pertumbuhan jamur patogen yang membahayakan ternak apabila dikonsumsi.
- Hay. Peternak dapat mengeringkan rumput, padi hingga berbagai tanaman lain sebagai pakan alternatif ternak yang dapat digunakan pada masa mendatang dengan rentang penyimpanan yang sangat lama. Karena kandungan bahan kering yang tinggi, jerami dapat diolah kembali dengan teknik fermentasi menjadi silase. Sehingga akan meningkatkan kadar protein kasar dan daya penyerapan nutrisi hewan ruminansia tersebut.
Dalam menghadapi potensi kemarau tanpa hujan dengan periode cukup lama, peternak harus mempersiapkan strategi dalam memenuhi kebutuhan hewan ternaknya. Mulai dari kebutuhan makan, minum, hingga pengaturan suhu lingkungan yang sesuai. Hal tersebut dilakukan dalam memastikan ternak dapat berproduksi maksimal dan tetap memutarkan sirkulasi ekonomi peternak dari tingkat terbawah.
Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa S1 Kedokteran Hewan SIKIA)
Editor: Jasmine Indah
