Setiap menjelang minggu ujian, suasana kampus berubah drastis. Mahasiswa mulai sibuk mondar-mandir dengan modul di tangan, dan perpustakaan tiba-tiba penuh. Grup WhatsApp juga ramai dengan kalimat seperti, “baru mulai belajar barusan” atau “besok SKS, fix!” Fenomena ini bukan hal baru. Bahkan seolah menjadi budaya tidak tertulis. Artinya semakin dekat ujian, semakin banyak yang menunda. Inilah yang dikenal sebagai prokrastinasi — kebiasaan menunda yang tampak sepele, namun menyimpan konsekuensi besar.
Menurut Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes, prokrastinasi dalam konteks mahasiswa bukan sekadar malas atau kurang niat. Dosen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku menekankan, itu adalah perilaku menunda sesuatu meskipun tahu konsekuensinya buruk.

“Mahasiswa tahu bahwa menunda belajar bisa merugikan, tapi tetap dilakukan. Ini bukan karena bodoh, tapi karena ada faktor perilaku dan psikologis yang memengaruhinya,” jelasnya
Salah satu alasan mengapa prokrastinasi justru muncul saat ujian mendekat adalah adanya mekanisme ilusi kemampuan dadakan. Makin dekat deadline, makin merasa bisa; makin mendesak, makin merasa cerdas. Sebagian besar mahasiswa bahkan mengaku merasa baru bisa fokus kalau sudah mepet waktu. Padahal itu hanyalah bentuk stres yang ditunda-tunda.
Dari Mana Sebenarnya Kebiasaan Ini Berasal?
Dalam pandangan ilmu perilaku, kebiasaan menunda tidak muncul begitu saja. Faktor pola asuh sejak kecil, kurangnya manajemen waktu, serta pengaruh lingkungan kampus bisa menjadi penyebab utama. Selain itu, rasa tidak percaya diri (insecure) terhadap dosen, mata kuliah, maupun nilai juga memperburuk situasi.
“Self-efficacy atau keyakinan terhadap kemampuan diri itu penting. Kalau dari awal merasa nggak mampu, akhirnya ya ditunda-tunda terus,” ujarnya.
Tak hanya itu, manajemen mood yang buruk, perfeksionisme, dan beban tugas berlebih membuat mahasiswa lebih rentan mengalami prokrastinasi. Bahkan kadang, mahasiswa hanya rajin pada mata kuliah yang disukai, dan menunda yang dianggap sulit atau tidak menyenangkan. Perilaku ini disebut sebagai respon subjektif terhadap materi.
Berdampak pada Keluhan Psikomatis
Prokrastinasi memengaruhi performa belajar, meningkatkan kecemasan, dan bahkan menurunkan kondisi fisik lewat keluhan seperti sakit kepala, sulit tidur, atau kelelahan.
“Seringkali, mahasiswa jadi sensitif terhadap nilai dan tekanan, bahkan muncul keluhan psikosomatis,” tambah Dosen FIKKIA yang akrab disapa Bu Jay.
Namun, tentu saja, semua ini bukan tanpa solusi. Jayanti menjelaskan beberapa strategi sederhana tapi ampuh yang bisa diterapkan mahasiswa untuk melawan kebiasaan prokrastinasi:
- Buat jadwal belajar yang sistematis sebagai bentuk tanggung jawab pribadi.
- Gunakan teknik belajar aktif, seperti metode Pomodoro atau mind-mapping.
- Cari teman belajar yang mendukung dan rajin, agar bisa saling memotivasi.
- Tentukan target belajar yang realistis, dan berikan reward kecil untuk setiap pencapaian.
- Ciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan bebas distraksi.
Yang paling penting, jangan tunggu motivasi datang. Ia mengingatkan, bahwa motivasi itu fluktuatif. Memulai langkah kecil yang konsisten jauh lebih kuat dari pada semangat sesaat.
“Ujian itu bukan cuma tentang nilai, tapi tentang melatih disiplin dan kekuatan mental” Jayanti Dian Eka Sari
Penulis: Penulis: Aqila Fawziya Mustafa (Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIKKIA)
Editor: Avicena C. Nisa

(2) Comments