BERITA SIKIA – Kesehatan Masyarakat pada hakikatnya merujuk dalam ilmu dan seni pencegahan penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat guna perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, serta pengembangan rekayasa sosial dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup yang layak.
Bentuk realisasi dari hakikat tersebut, Mahasiswa Kesehatan Masyarakat SIKIA Universitas Airlangga Banyuwangi melakukan kunjungan ke De-Djawatan Forest. Tempat wisata ini dikenal dengan hutan magis yang menyimpan keindahan pohon trembesinya. De-Djawatan Forest berlokasi di Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi.
Tujuan kunjungan tersebut untuk melakukan analisis kualitas lingkungan sebagai upaya pencegahan penyakit menular. Mengingat ekosistem hutan yang asri berpotensi menyimpan berbagai vektor penyebab penyakit yang dapat membahayakan wisatawan.
Mahasiswa melakukan pengambilan data pada Sabtu (11/03/2023) menggunakan metode observasi dan wawancara secara langsung dengan pengelola De-Djawatan Forest untuk menganalisis kualitas sanitasi lingkungan mulai dari area parkir, toilet, mushola, foodcourt, hingga sistem pengelolaan wisatanya.
“Karena tergolong wisata baru, kenyamanan pengunjung harus diutamakan dengan melengkapi fasilitas yang dibutuhkan, seperti mushola, kamar mandi, air bersih dari sumur galian, food court, dan lainnya.” Ujar pak Andi, pengelola De-Djawatan Forest.

Laik sehat dengan skor 81/100 sesuai Permenkes No.14 Tahun 2021
Ditinjau dari Permenkes No.14 Tahun 2021 tentang Standar Kegiatan Usaha dan Produk pada Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko Sektor Kesehatan, sanitasi wisata De-Djawatan Forest hampir sempurna. Keberadaan tempat sampah mudah dijumpai oleh pengunjung. Pengelolah rutin melakukan fogging lingkungan hutan untuk memberantas vektor nyamuk Aedes Aegypti. Wisata De-Djawatan Forest termasuk dalam wisata ruang terbuka dan berjenis hutan alam pohon trembesi yang mengandung banyak sekali vektor penyebab penyakit, tak terkecuali Aedes Aegypti, nyamuk penyebab penyakit demam berdarah Dengue (DBD).
Ditinjau dari pengelolaan sampah, wisata hutan ini belum bekerja sama bekerja sama dengan pihak pengangkut sampah terkait pendistribusian sampah ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sebagian sampah dibakar dan dibuang di sungai sekitar tempat wisata. Padahal, pengelolaan sampah yang demikian mengakibatkan tercemarnya ekosistem sungai dan menimbulkan potensi kebakaran hutan serta mengganggu pernapasan manusia.
Survey analisis Kualitas Lingkungan di lingkungan wisata De-Djawatan Forest menjadi media bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmunya. Terutama dalam menganalisis kesehatan lingkungan di sektor pariwisata alam terbuka yang ramai digaungkan di Banyuwangi.
Penulis: Dhea Ayu Amalia Putri
Editor: Acn
