KABAR FIKKIA – Seminar Nasional Entrepreneur Mentoring Skill (EMS) 2025 digelar sukses pada Jumat (21/11/2025) di Aula Kampus Mojo. Acara ini diselenggarakan oleh Departemen Ekonomi dan Kreatif Himpunan Mahasiswa Akuakultur (HIMAKUA) FIKKIA UNAIR. Seminar bertujuan mendorong semangat mahasiswa memulai dan mengelola usaha dari nol, memfasilitasi jaringan dengan pelaku usaha berpengalaman, serta mendorong inovasi bisnis berkelanjutan. Kegiatan dihadiri oleh 62 mahasiswa dari FIKKIA UNAIR, Tujuh Belas Agustus (UNTAG), dan Politeknik Negeri Banyuwangi. Ketiganya dikenal sebagai kampus di Banyuwangi yang menyelenggarakan studi perikanan maupun budidaya perairan.
Ketua Pelaksana, Amanda Fariska (AKUA 23), mengucapkan terima kasih kepada semua peserta yang telah hadir dan mendukung acara ini. Pembina HIMAKUA, Suciyono, S.St. Pi., M.P dalam sambutannya berpesan agar mahasiswa yang hadir pagi itu terus melanjutkan kolaborasi antar kampus banyuwangi sekaligus memperluas relasi.
Hadirkan Inspirasi Wirausaha Muda
Pemateri pertama Fahmi Dimas, mahasiswa angkatan 2021 yang telah memiliki usaha penyedia kebutuhan perikanan. Ia menceritakan, usahanya berawal dari kesukaannya terhadap ikan cupang. berangkat dari sana, Fahmi memulai budidayakan ikan cupang beserta pakan alaminya. Ia menekankan bahwa hobi dapat diubah menjadi peluang bisnis jika didukung oleh kepercayaan diri dan keberanian.
“Jangkauan pasar akan luas jika kita berani berkomunikasi, menjaring relasi melalui komunitas, dan berinovasi. Siapa saja yang menginginkan ikan hias cupang berkualitas dan pakan alami, langsung saja DM di @mr.artemia.” Ujarnya
Dalam sesi tanya jawab, Nadiva (AKUA 25) bertanya tentang cara menghadapi tren pasar. Fahmi menjawab bahwa mahasiswa perlu mempelajari keterampilan tambahan di luar penjualan utama untuk mendukung bisnis, sebagai bentuk backup yang efektif.
Pemateri kedua datang dari alumni akuakultur angkatan 2019, Fakhriyyah. Memulai usaha iTawar, budidaya ikan nila kekar yang tidak bau tanah, memiliki daging yang tebal dan sistem budidaya yang ramah lingkungan. Fakhriyyah menyoroti bahwa generasi Z memiliki energi dan kreativitas lebih tinggi, dengan banyak peluang baru di era digital. Namun, tantangan utama adalah kurangnya kepercayaan diri, ketakutan gagal, dan keterbatasan modal.
“Mahasiswa memiliki kesempatan lebih luas dibandingkan alumni dalam urusan pemodalan. Selagi kuliah, mahasiswa bisa mengikuti lomba lomba yang mendapatkan pendanaan untuk awal usaha,” ujar Fakhriyah.
Ia menambahkan bahwa bisnis tidak hanya fokus pada penjualan, tetapi juga pada penyelesaian masalah. Bidang akuakultur dinilai sebagai peluang besar karena permintaan ikan terus meningkat setiap tahun.
Kesan positif datang dari peserta, Desi (Akua’24). Menurutnya, seminar ini membantu membangun relasi antar kampus di Banyuwangi dan memberikan informasi mendalam tentang kewirausahaan.
Terselenggaranya seminar diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak mahasiswa untuk terjun ke dunia wirausaha, khususnya di sektor perikanan dan akuakultur.
Penulis: Nirmala Sagita
Editor: Avicena C. Nisa
