FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Sharing Session Pengusaha Inovatif Akuakultur “Membangun Indonesia dari Pesisir”

BERITA-SIKIA. Senin (01/11/2022) Perkembangan pasar digital saat ini telah merambah bisnis retail kebutuhan sehari-hari. Berbagai penyedia belanja online mudah didapat dan erat penggunaannya dalam keseharian kita. Belanja online kerap dilakukan karena kemudahan dan pilihan barang yang beragam. Bahkan produk pangan basah seperti buah, sayur, ikan segar, dan bahan mentah lainnya sudah bisa dimiliki melalui ponsel pintar kita.

Namun pernahkah terpikirkan apabila barang tersebut dibutuhkan untuk skala industri besar, atau ketersediaan barang melimpah sedangkan tingkat konsumsi kecil. Inilah peluang yang ditangkap Zulfadli, pemuda asal Bontang Kalimantan Timur yang hadir sebagai pemateri di Mata Kuliah Kewirausahaan Program Studi Akuakultur SIKIA-UNAIR. Zulfadli merupakan pendiri Bidfish.id, aplikasi lelang ikan online yang memfasilitasi supplier kapasitas besar bertemu dengan pembeli potensial.

Selain ikan, Bidfish juga melelang produk makanan hasil laut seperti udang, lobster, dan kepiting.

Didampingi Darmawan Setia Budi, S.Pi., M.Si. dan Arif Habib Fasya, S.Pi., M.P. sekitar 42 mahasiswa hadir dalam sharing session di Ruang Kuliah 102 Kampus Giri SIKIA-UNAIR.

Foto Bersama diakhir kegiatan

Zulfadli menceritakan bagaimana ia termotifasi menjadi pengusaha daripada harus bekerja di perusahaan tambang yang umum ditemui di Kalimantan. Berawal dari komunitas Tangan Diatas ia terpacu untuk bisa berkolaborasi dan ikut berbagi. Menurutnya peluang yang ada harus diwujudkan dengan kerjasama. Sumberdaya yang dibutuhkan mulai dari fasilitas sampai pemodalan bisa didapatkan dari hasil kolaborasi.

Survei penting dilakukan untuk menganalisis trend pasar, melakukan riset untuk mengetahui sumberdaya yang tersedia dan apa yang sebenarnya dibutuhkan lingkungan sekitar. Pemuda cenderung kurang berminat menggeluti usaha di ranah perikanan seperti tambak dan nelayan. Ada rasa kurang bangga ketika harus meneruskan usaha atau pekerjaan orang tua sebagai nelayan dan pemilik tambak. Potensi hasil perikanan besar namun sulit menemukan pembeli, sedangkan masa simpan ikan singkat sehingga membuat pelaku perikanan merugi karena kualitas ikan menurun atau bahkan busuk.

Melihat fakta tersebut Zulfadli tergerak menciptakan bisnis lelang untuk pelaku perikanan.

“Saya berpikir bagaimana mencari pembeli dengan cepat, agar ikan yang tersedia tidak rusak dan pelaku perikanan tidak rugi” ceritanya

Dari sanalah lahir merk Yoiseafood yang menawarkan produk perikanan dalam bentuk froozen di tahun 2019 hingga berkembang menjadi Bidfish seperti sekarang.

Menjelang akhir sesi founder Bidfish ini menambahkan agar tetap melakukan kontrol kualitas terhadap produk dan mitranya. Baik kualitas produk, penyedia ikan, dan pembeli harus kredible agar bisnis saling menguntungkan.  

“Kami memiliki cabang yang ada di daerah untuk melakukan survei barang dan memastikan kualitas barang. Ada juga checker yang memastikan kualitas barang saat diterima buyer. Jadi ketika barang diterima, barang diunboxing bersama untuk menghindari kesalahpahaman atau penipuan dari pihak buyer dan supplier”

Ia berpesan kepada mahasiswa yang hadir untuk tidak takut berinovasi dan berwirausaha. Status mahasiswa bisa menjadi peluang karena beberapa pemodalan difasilitasi melalui melalui mekanisme hibah seperti PKM, Kompetensi Bisnis Mahasiswa, Pendanaan Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, yang semuanya dinaungi Kemendikbudristek.

Penulis: Choirun Nisa
Editor: Choirun Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *