FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

SIGAP 2025 Bahas Jalur Karier Akuakultur di Era Blue Economy

KABAR FIKKIA – Webinar SIGAP: Sinergi Ilmu untuk Generasi Adaptif dan Produktif sukses digelar daring pada Jumat (20/06/2025). Kegiatan diikuti 85 peserta dari berbagai latar belakang keilmuan di Universitas Airlangga. Terdapat enam narasumber inspiratif dari FIKKIA, FISIP, dan FK. Mereka membahas berbagai potensi pekerjaan lintas keilmuan bagi alumni Ilmu politik, akuakultur, kedokteran, dan kesehatan masyarakat.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian peserta adalah materi dari Farida Mauludia, S.Pi., M.P., M.Sc. Dalam sesi bertajuk “Aquaculture Career Pathways: Menjadi Profesional di Era Blue Economy”, Farida memaparkan luasnya cakupan peluang kerja di sektor perikanan dan kelautan. Dosen Prodi Akuakultur, FIKKIA itu menyampaikan, saat ini sekitar 20,5 juta orang di dunia bekerja dalam sektor akuakultur. Permintaan tenaga kerja di bidang ini terus meningkat seiring dengan pertumbuhan ekonomi biru (blue economy).

Menjadi Profesional di Era Blue Economy

Menurut Farida, lulusan akuakultur tidak terbatas hanya bekerja di tambak atau hatchery. Ada banyak jalur karier yang dapat dijelajahi, seperti teknisi budidaya, analis laboratorium, peneliti, quality assurance (QA), quality control (QC), penyuluh, pengajar, dan konsultan akuakultur. Selain itu, dua jalur karier yang dinilai sangat strategis untuk masa depan adalah entrepreneur akuakultur dan digital marketer akuakultur.

“Sebagai entrepreneur, mahasiswa dapat membangun usaha pembenihan dan pembesaran ikan, produksi pakan mandiri, hingga olahan produk perikanan”. Tuturnya.

Dosen alumni UB dan NUPST Taiwan itu menambahkan, sertfikasi keahlian bisa menunjang. Diantaranya, pengalaman magang di unit budidaya minimal enam bulan dan pelatihan bersertifikat seperti HACCP, CPPIB, BNSP, dan pelatihan wirausaha sangat dianjurkan.

Digitalisasi Jadi Kunci Adaptasi

Di era digital, pemasaran produk perikanan juga mengalami transformasi besar. Farida mendorong mahasiswa untuk menjelajahi jalur digital marketing akuakultur. Promosi produk atau jasa perikanan mulai dilakukan di media sosial dan e-commerce. Skill seperti SEO, content marketing, desain grafis, dan video editing menjadi sangat dibutuhkan. Platform seperti Google Garage, Meta Blueprint, Shopee Seller Center, dan LSP Digital disebut sebagai tempat pelatihan yang dapat diakses untuk meningkatkan kompetensi digital mahasiswa.

Memasuki sesi diskusi, Ryan Adi, (KH FIKKIA 23), mengajukan pertanyaan tentang kontribusi mahasiswa lintas disiplin. Khususnya dalam menghadapi resistensi antibiotik dalam praktik budidaya perikanan.

“Bagaimana peran mahasiswa kedokteran hewan dalam bisnis akuakultur, khususnya terkait resistensi antibiotik?” tanyanya.

Farida menanggapi, bahwa isu tersebut memerlukan pendekatan multidisipliner. Dokter Hewan berperan dalam pengawasan penggunaan obat, penerapan biosafety dan biosecurity, serta riset bersama untuk mewujudkan budidaya yang berkelanjutan dan aman.

Melalui webinar SIGAP, mahasiswa tidak hanya dibekali dengan informasi karier, tetapi juga diajak untuk membangun sinergi lintas ilmu sebagai fondasi generasi adaptif dan produktif di masa depan.

Penulis: Ryan Adi Taufiqurrahman

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *