KABAR FIKKIA – 22 mahasiswa terpilih mengikuti Field Study dan Student Project One Health Student Club (OHSC) Batch 6 di Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Sidoarjo. Dari jumlah tersebut, 10 mahasiswa berasal dari Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA). Kunjungan lapang dilakukan pada Sabtu (30/08/2025) oleh berbagai mahasiswa lintas keilmuan di Universitas Airlangga.
Kegiatan ini menjadi penutup setelah para peserta mengikuti empat kali pertemuan kelas secara online. Tujuan utama dari field study adalah memahami peran BKSDA dalam konservasi satwa dan ekosistem, mengidentifikasi kaitan konservasi satwa liar dengan pendekatan One Health, serta mempelajari upaya pencegahan dan penanganan konflik manusia, satwa liar dan lingkungan.
Belajar Konservasi Langsung di Lapangan
Dalam kunjungan ini, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai satwa sitaan yang dirawat dan dikarantina oleh BKSDA. Satwa-satwa tersebut antara lain jalak tunggul merah, cica hijau daun besar, perkici timur, beo/labibi, sanca bodo, sanca kembang, merak, kakaktua jambul kuning, kakaktua seram, kucing kowok, kucing hutan, elang, elang paria, pipit zebra, monyet ekor panjang, dan beruk.
Setiap satwa memiliki tantangan tersendiri dalam hal perawatan, kesehatan, hingga proses pelepasliaran. Misalnya, sanca kembang yang disita akibat konflik dengan masyarakat dan juga berpotensi membawa leptospira sehingga harus dilepas di lokasi tidak berpenghuni. Sementara itu, merak jantan memanfaatkan surah khasnya untuk menarik perhatian betina. Ada juga golongan monyet dan beruk yang memiliki karakteristik yang berbeda ada yang tidak bisa diam dan ada yang suka makan.
mengenai aspek perawatan yang mewadahi disampaikan langsung oleh drh. Zakia Sheila, dokter hewan BKSDA Jatim. Ia menegaskan,
“Dalam merawat satwa, sanitasi kandang harus selalu terjaga, kesehatan hewan dipantau secara rutin, dan satwa harus benar-benar siap sebelum akhirnya dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya.”
Observasi dan Diskusi One Health
Mahasiswa dibagi menjadi tiga kelompok dan melakukan pengisian lembar observasi yang mencakup perilaku, habitat, serta potensi penularan penyakit dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Diskusi dua arah pun terjadi mengenai bagaimana peran mahasiswa dapat mendukung konservasi serta mengintegrasikan pendekatan One Health dalam kehidupan akademik dan masyarakat.
Di sesi penutup, penyelenggara OHSC memberikan apresiasi kepada peserta teraktif selama rangkaian kegiatan. Penghargaan tersebut diraih oleh Putri Nazilah (KH 24). Ia dinilai aktif dalam bertanya, menjawab, serta memberikan pandangan kritis selama kelas maupun field study.
Putri mengungkapkan, studi lapang di BKSDA Jatim menambah wawasannya tentang keterkaitan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan.
“Kegiatan ini juga memperkuat kesadaran pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk konservasi dan One Health.” tambahnya Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan untuk mendukung konservasi satwa liar. Keikutsertaan mahasiswa FIKKIA dalam kegiatan OHSC batch 6 menunjukkan komitmen generasi muda untuk terus belajar, berkontribusi, dan menjadi agen perubahan dalam
Penulis: Amalia Sofi Ramadanti
Editor: Avicena C. Nisa
