FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Tiga Mahasiswa FIKKIA Bantu Penyelamatan 29 Penyu Hijau di Jembrana

KABAR FIKKIA – Aksi penyelamatan satwa dilindungi kembali berlangsung di Bali. Sebanyak 29 penyu hijau (Chelonia mydas) yang berhasil disita oleh Polres Jembrana kini tengah menjalani proses karantina dan perawatan di Pusat Konservasi Penyu Kurma Asih, Desa Perancak Jembrana. Penyu-penyu tersebut diselamatkan pada Minggu dini hari (12/01/2025) dan diserahkan kepada pihak konservasi pada pukul 04.00 WITA.

Menariknya, tiga mahasiswa Kedokteran Hewan Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga turut menjadi bagian dari proses ini. Ananda Herlina, Amalia Sofi, dan Firman Ardiansyah, mahasiswa semester 4, sedang menjalani program magang di Umah Lumba Jaringan Satwa Indonsesia. Kehadiran mereka menjadi kontribusi nyata mahasiswa dalam upaya pelestarian satwa.

Tim dari Jaringan Satwa Indonesia Umah Lumba, yang bekerja sama dengan Kurma Asih, langsung bergerak setelah dihubungi untuk menangani karantina penyu. Ketiga mahasiswa ini terlibat dalam berbagai tugas penting, mulai dari persiapan alat-alat medis hingga pemeriksaan kesehatan satwa.

Persiapan dan Proses Medis Penyu Hijau

Kami mempersiapkan perlengkapan medis seperti kasa, infus, alat detak jantung, betadine, dan microtube,” ujar Firman Ardiansyah. Peralatan ini digunakan untuk pemeriksaan mendalam terhadap kondisi penyu-penyu hijau yang diselamatkan. Rencananya penyu-penyu tersebut akan dilepas liarkan kembali setelah kondisinya pulih.

Pemberian nomor identitas penyu oleh petugas BKSDA Provinsi Bali. Foto: Penulis

Selain itu, mereka juga melakukan berbagai prosedur teknis seperti pendataan dan pemeriksaan kesehatan setiap penyu, pemberian infus NaCl pada penyu yang mengalami dehidrasi dan penyu yang terkena prolabs dan pengambilan sampel untuk tes DNA. Pemeriksaan DNA diperlukan guna mengetahui asal-usul genetik, serta proses tagging untuk identifikasi individu penyu.

Pencatatan kondisi fisik dan pendataan kesehatan penyu. Foto: Penulis

Koordinator Kelompok Pelestari Penyu (KPP) Kurma Asih, I Wayan Anom Astika Jaya, mengungkapkan bahwa penyu-penyu yang diterima memiliki ukuran dan usia yang bervariasi. “Sebanyak 29 penyu hijau kini berada dalam perawatan di Kurma Asih. Kami berkomitmen untuk memulihkan kondisi mereka sebelum nantinya dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya,” jelasnya.

Penyu hijau, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut, merupakan spesies yang dilindungi. Diharapkan, dengan rehabilitasi intensif, penyu-penyu ini dapat segera dilepaskan kembali ke habitat alaminya. Keterlibatan mahasiswa FIKKIA tidak hanya memberikan pengalaman lapangan, tetapi juga menunjukkan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam melestarikan satwa langka. Kolaborasi ini menjadi bukti nyata upaya bersama untuk menjaga keanekaragaman hayati Indonesia.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *