BERITA SIKIA – Pengabdian masyarakat yang digagas Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FKM dan Kesehatan Masyarakat SIKIA Universitas Airlangga, sebagai upaya peningkatan paran kolaborasi pentahelix dalam upaya kesiapsiagaan mengahadapi bencana multihazhard. Pihak yang terlibat dalam upaya bencana multihazhard diantaranya pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat. Kegiatan yang perlangsung pada Kamis (17/11/2022) bertempatkan di Hotel Aston Banyuwangi.
Kegiatan diawali dengan sambutan dan pembuka dari Haksa selaku ketua pelaksana. Selain itu dilanjutkan dengan 2 pemateri diantaranya, Mahbub Junaidi, S.Sos, M.Si Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Banyuwangi dan Catur Sudarmanto, S.Sos., M.M.B. Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jawa Timur.
Materi pertama disampaikan oleh Mahbub Junaidi, S.Sos, M.Si yang menjelaskan tentang peningkatan peran kapasitas pentahelix. Mahbub menjelaskan bahwa saat ini di Banyuwangi masih menjadi rawan terjadinya bencana banjir yang disebabkan oleh bermacam penyebabnya.
Tim yang terdiri antara Dr. Setya Haksama, drg., M.Kes. sebagai ketua pelaksana, Diansanto Prayoga, S.KM., M.Kes dan M. Farid Dimyati Lusno, dr., M.KL siap sukseskan pengabdian masyarakat tersebut.
“Bagaimana kita bisa menyatukan atau melakukan sinergi antar pihak seperti peran pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, dan masyarakat” Ucap Haksa.
Menurut Harsa, tidak hanya pemerintah saja pihak yang berperan dalam upaya penanggulangan bencana, namun seluruh pihak harus terlibat. Adanya kegiatan pengabdian masyarakat ini akan membangun komitmen dan kesepakatan bersama agar masing-masing pentahelix dapat berkoordinasi dan berkegiatan dengan baik.
Harapan yang disampaikan oleh ketua pelaksana, Haksa menyebutkan bahwa adanya peran dari pihak akan semakin kuat, solid, dan bagus. Banyuwangi dengan segala risiko potensi bencana yang tinggi seperti bencana banjir yang kerap terjadi di Alasmalang Banyuwangi, akan menjadi lebih baik pencegahan maupun penanggulangan, apabila kolaborasi pentahelix dapat dilakukan di Banyuwangi. Banyuwangi merupakan wilayah dengan resiko bencana yang konkrit dan kompleks, seperti tsunami, kebakaran hutan, tanah longsor, banjir, dan gunung meletus. Tingginya potensi wilayah bencana yang ada menjadi tantangan luar biasa bagi pentahelix untuk melakukan kolaborasi di Banyuwangi, sekaligus menjadi bentuk output pentahelix action
Penulis: Muhammad Ridwan
Editor: Acn
