FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Tradisi Mantu Kucing dalam Bingkai Kearifan Budaya dan Kesejahteraan Hewan

Banyuwangi dikenal sebagai daerah kaya akan budaya, tradisi, dan cerita rakyat yang hidup berdampingan dengan aktivitas keseharian masyarakat. Dari seni tari gandrung, Seblang, sampai Kebo-keboan dengan setiap ritual menyimpan jejak sejarah dan filosofi yang merefleksikan hubungan harmonis antara manusia, alam, maupun makhluk hidup lain. Di tengah keragaman budaya tersebut terdapat satu tradisi unik yang kerap menarik perhatian dengan melibatkan salah satu hewan yang paling dekat dalam kehidupan manusia yaitu kucing.

Tradisi tersebut dikenal sebagai Mantu Kucing. Sebuah prosesi adat masyarakat osing yang menjadikan kucing sebagai simbol utama dalam doa dan harapan masyarakat menjelang datangnya musim penghujan di Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Istilah “mantu” merujuk pada prosesi pernikahan walaupun tidak ada akad nikah yang berlangsung. Mantu hanya murni simbolis dalam konteks budaya dan kepercayaan lokal. Secara historis pada tahun 1930 an dilakukan pada musim kemarau panjang dengan tujuan memohon kepada Tuhan agar segera menurunkan hujan.

Iring iringan pengantin kucing di oleh warga Dusun Curahjati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo. Sumber: wecarejatim.com

Hingga saat ini, tradisi tersebut telah turun temurun menjadi agenda tahunan sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat atas datangnya musim hujan yang dinanti-nanti dan tolak bala. Terdapat dua kucing jantan dan betina dari lokasi berbeda yang terlebih dahulu dipertemukan di tempat tetua adat. Kemudian mereka digendong dan diarak oleh pemilik serta masyarakat dengan diiringi musik juga kesenian tradisional menuju sumber air Umbul Sari melewati lahan pertanian. Lokasi tersebut terletak di pinggir hutan jati Perhutani yang berada di sisi utara desa. Sebuah mata air yang konon tidak pernah mengering walaupun hujan lama tidak turun. Sehingga menjadi sumber kehidupan bagi manusia dan alam sekitarnya. Pemuka adat akan membacakan doa sambil membakar kemenyan. Selanjutnya kucing akan dimandikan dan dilepaskan pada mata air tersebut.

Mantu kucing juga dilakukan warga Desa Palem, Campurdarat, Tulungagung untuk meminta hujan.
Sumber: jatimnow.com

Ritual menjadi sebuah prosesi simbolik sarat makna sosial dan rekonsiliasi manusia dengan lingkungan. Bagi masyarakat, mantu kucing adalah bentuk doa kolektif. Berkumpul bersama menyatukan harapan dan doa untuk keberlimpahan hasil panen hingga keberlangsungan hidup. Meski awalnya bersifat spiritual dan ritualistik, tradisi mantu kucing juga memiliki dimensi sosial karena mempererat ikatan antar warga serta menjaga kesinambungan budaya leluhur.

Kucing Bisa Panggil Hujan?

Dalam kajian cultural studies, ritual seperti mantu kucing bukan sekadar prosesi seremonial. Tetapi merupakan teks budaya yang menyimpan makna, ideologi, serta relasi kuasa antara manusia dan yang non-manusia. Kucing dalam tradisi ini tidak hanya dianggap sebagai hewan peliharaan yang lucu dan menggemaskan. Namun juga simbol keseimbangan, pertanda alam, dan penjaga ritme kehidupan agraris. Dalam mitologi mesir kuno, Dewi Kucing Bastet diasosiasikan dengan perlindungan, rumah tangga, dan kesuburan.

Kucing dalam kebudayaan Mesir Kuno. Sumber: Bobo.grid.id

Memang berkesinambungan dengan pengharapan tolak bali tetapi mungkin hal tersebut kurang sesuai dengan keadaan kehidupan masyarakat lokal di Indonesia. Menurut leluhur kucing dalam ritual mantu kucing relatif takut dengan kubangan air bila dimandikan akan menjadi basah. Hal tersebut adalah simbolisasi doa agar bisa diberi air yang berlimpah sama dengan kucing yang takut dengan air perlu dimandikan agar menjadi basah yang menjadi simbolisasi turunnya hujan.

Memang kucing tidak bisa memanggil hujan secara langsung. Tetapi, kucing dapat menjadi pertanda yang peka terhadap perubahan cuaca. Kebiasaan mereka membersihkan tubuh, mencari tempat hangat, atau bersembunyi saat udara terasa lembab sering dianggap sebagai pertanda akan turunnya hujan. Kepekaan biologis ini kemudian diolah menjadi narasi budaya, diinterpretasikan sebagai pesan alam yang patut dihormati. Hal tersebut sesuai dengan temuan Palestrini et al., 2022 mencatat terjadi peningkatan aktivitas kucing bila akan terjadi cuaca yang lebih dingin.

Tingkatkan Relasi Hewan Manusia

Mantu kucing juga memberikan peluang membaca relasi manusia hewan. Kucing bukan hewan liar dalam imajinasi masyarakat. Kucing menjadi bagian dari rumah, penjaga lumbung dari hama, dan sahabat sehari-hari. Keterlibatan mereka dalam ritual mencerminkan kedekatan itu. Di era modern, kedekatan emosional perlu diimbangi dengan pemahaman ilmiah mengenai apa yang membuat hewan merasa nyaman atau tertekan.

Dalam banyak tradisi di berbagai belahan dunia, hewan sering menjadi simbol penting. Tetapi semakin berkembangnya kesadaran kesejahteraan hewan mengajak masyarakat untuk menyesuaikan cara berinteraksi dengan mereka. Menjembatani tradisi dan nilai etika modern bukan berarti menghilangkan ritual. Kita harus merawatnya agar tetap relevan. Mantu kucing dapat terasa lebih indah ketika masyarakat bisa menjaga simbol budaya dan hewan yang terlibat. Ritual tersebut dapat menjadi sarana edukasi tentang    memperlakukan hewan dengan baik.

Keterlibatan hewan dalam ritual budaya seringkali mengundang pertanyaan tentang etika, kesejahteraan hewan, serta kondisi kesehatan mereka. Ini bukan untuk meniadakan tradisi, melainkan memberikan ruang refleksi agar praktik budaya dapat berjalan selaras dengan nilai kemanusiaan modern. Pendekatan yang menggabungkan cultural studies dan kesejahteraan hewan memungkinkan kita melihat tradisi ini dari dua sisi. Yaitu meilhat masyarakat memaknai kucing secara simbolik, dan hewan tersebut harus tetap dipastikan mendapatkan perlakuan yang aman, sehat, dan bebas dari stres selama prosesi berlangsung. Namun perkembangan zaman menuntut adanya penyesuaian agar tradisi tetap relevan.

Masyarakat modern semakin peduli terhadap isu perlindungan hewan, sehingga ritual yang melibatkan fauna harus memastikan tidak terjadi eksploitasi atau perlakuan yang melanggar etika kesejahteraan hewan. Di sinilah konsep animal welfare serta kesehatan hewan menjadi penting sebagai alat evaluasi sekaligus pedoman pembaruan tradisi.

Keterlibatan komunitas dalam perawatan kucing juga dapat dijadikan bagian dari revitalisasi tradisi. Misalnya, sebelum ritual berlangsung, masyarakat dapat melakukan pemeriksaan kesehatan kucing melalui dokter hewan lokal, kampanye sterilisasi, atau edukasi tentang Five Freedoms. Ritual menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi masyarakat tentang kesejahteraan hewan sekaligus pengingat untuk menjaga stabilitas maupun mengurangi populasi kucing yang berlebih dengan cara yang etis. Tentu akan menjadi gerakan sosial yang berdampak nyata bagi hewan dan lingkungan. Menjadi pengingat untuk pengelolaan populasi kucing juga berkaitan dengan prinsip kebebasan dari rasa lapar dan haus. Banyak kucing kampung hidup dengan makan seadanya, mengais sampah, atau mengandalkan pemberian makanan sporadis dari warga.

Pengingat Pengendalian Populasi Kucing

Jika Mantu Kucing adalah representasi harapan atas keberlimpahan alam, maka pengelolaan populasi kucing merupakan wujud tanggung jawab manusia terhadap hewan yang hidup berdampingan dengan mereka. Upaya seperti sterilisasi, vaksinasi, pemberian pakan terjadwal, dan adopsi yang bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari gerakan budaya baru yang sejalan dengan nilai-nilai kesejahteraan hewan.

Sterilisasi merupakan salah satu metode paling efektif untuk mengontrol populasi kucing tanpa kekerasan. Perspektif veteriner menunjukkan bahwa sterilisasi dapat mengurangi risiko penyakit reproduksi, perilaku agresif, dan stress akibat persaingan teritorial. Sementara itu sterilisasi dapat dipandang sebagai bentuk “pemeliharaan relasi” antara manusia dan hewan. Dengan mengurangi jumlah kucing jalanan yang terlantar atau sakit, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan harmonis. Ini selaras dengan nilai-nilai tradisi lokal yang menekankan kebersihan, keseimbangan, dan keharmonisan dengan alam.

Ketika populasi terlalu banyak, sumber makanan tidak sebanding dengan jumlah individu, sehingga terjadi kompetisi, malnutrisi, dan peningkatan risiko penyakit. Melalui pengendalian populasi dan pemberian pakan yang terstruktur, masyarakat dapat membantu menciptakan kondisi yang lebih baik bagi hewan tersebut.Ini bukan hanya program kesehatan hewan, tetapi juga praktik budaya yang merefleksikan nilai gotong royong dan kepedulian yang melekat dalam tradisi Banyuwangi.

Dokter hewan, pecinta kucing, atau komunitas pemerhati hewan dapat terlibat dalam proses ini dengan memberikan panduan atau pendampingan, sehingga tradisi menjadi lebih ramah hewan. Hal ini justru memperkuat makna budaya karena penghormatan kepada kucing tidak hanya tampak dalam simbolisme ritual, tetapi juga dalam tindakan nyata merawat kesejahteraan mereka. Pada akhirnya, mantu kucing dapat menjadi contoh budaya lokal, hewan kesayangan, dan ilmu modern bisa saling memperkaya. Tradisi ini bukan hanya warisan, tetapi jembatan nilai antara masa lalu dan masa kini. Dengan memperlakukan kucing secara baik, masyarakat tidak hanya merawat hewan kesayangan mereka, tetapi juga merawat tradisi itu sendiri. Karena sebuah tradisi hanya akan hidup lama bila dijalankan dengan cinta. Baik kepada manusia, alam, maupun hewan yang menjadi bagian dari makna budaya tersebut.

Penulis: Azhar Burhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *