FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Waspada Sindrom Stevens Johnson Kegawatdaruratan Kulit yang Mengancam Jiwa

dr. Riezky Januar Pramitha, M.Ked.Klin, Sp.DVE

Sindrom Stevens Johnson (SJS) adalah salah satu kondisi kegawatdaruratan dibidang dermatologi yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit, mukosa serta mata yang disertai dengan gejala umum yang berat. SJS seringkali diawali dengan gejala seperti flu, yang diikuti dengan ruam merah atau keunguan pada kulit. Ruam tersebut terasa menyakitkan dan dapat melebar serta melepuh. Selanjutnya, bagian kulit atau membrane mukosa yang terkena sindrom ini akan mengelupas. Sindrom Stevens-Johnson adalah kondisi serius yang memerlukan perawatan medis segera.

Dosen Prodi Kedokteran Prodi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR dr. Riezky Januar Pramitha, Sp.D.V mengatakan, banyak faktor penyebab SJS. Dokter spesialis dermatologi dan venerologi menjelaskan, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut dan observasi menyeluruh untuk menentukan seseorang divonis SJS atau bukan.

Ketahui penyebab Sindrom Stevens Johnson

Penyebab SJS sukar untuk ditentukan dengan pasti. Banyak faktor yang menjadi sebab munculnya SJS, antara lain:

  • Obat-obatan: Lebih dari 80% kasus SJS disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap obat-obatan tertentu. Obat-obatan yang paling sering dikaitkan dengan SJS meliputi antibiotik seperti sulfonamida dan penisilin, antikonvulsan seperti fenitoin dan karbamazepin, serta obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) seperti ibuprofen dan naproksen, alopurinol, oxicam, lamotrigine dan nevirapine. Namun, hampir semua kelas obat dapat menjadi penyebab potensial SJS.
  • Infeksi: Beberapa jenis infeksi juga telah diketahui dapat memicu SJS, meskipun ini lebih jarang dibandingkan dengan reaksi terhadap obat-obatan. Contohnya termasuk infeksi virus seperti herpes simplex, HIV, dan influenza, serta infeksi bakteri seperti Mycoplasma pneumoniae.
  • Faktor Genetik: Ada bukti bahwa faktor genetik atau kerentanan genetik tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami SJS setelah terpapar obat-obatan atau infeksi tertentu.
  • Faktor Lingkungan: Beberapa faktor lingkungan tertentu juga dapat mempengaruhi risiko terjadinya SJS, meskipun belum sepenuhnya dipahami dengan jelas.

Penting untuk dicatat bahwa tidak semua orang yang mengonsumsi obat-obatan yang diketahui menyebabkan SJS akan mengalami kondisi ini. Reaksi ini sering kali merupakan hasil dari kombinasi antara faktor genetik, lingkungan, dan faktor pemicu tertentu yang masih belum sepenuhnya dipahami secara lengkap oleh ilmu pengetahuan medis.

Mengenali gejala Sindrom Stevens Johnson

Sindrom Stevens-Johnson (SJS) biasanya dimulai dengan gejala umum yang mirip dengan flu, seperti demam, sakit tenggorokan, dan nyeri tubuh. Namun, gejala utama yang membedakan SJS adalah ditemukannya trias yaitu adanya keluhan kulit yang berat dan keluhan pada mukosa baik pada mata, mulut maupun kelamin. Gejala lainnya dari SJS dapat mencakup:

Ruam disertai lepuhan pada kulit tangan. Sumber: healthjade.net
  • Ruam kulit: Biasanya dimulai dengan bintik-bintik merah simetris pada wajah, badan atas dan anggota gerak bagian atas kemudian yang kemudian berkembang menjadi ruam merah muda atau ungu dan dengan cepat meluas ke seluruh tubuh. Ruam ini sering kali terasa panas dan dapat menyebar dengan cepat.
  • Lepuhan: Di bawah ruam kulit terdapat lepuhan (epidermolisis). Lepuhan ini dapat pecah dan menyebabkan lapisan atas kulit terkelupas.
  • Sakit atau terbakar: Kulit yang terkena biasanya terasa sakit atau terbakar, mirip dengan luka bakar.
  • Selaput Lendir: Selain kulit, SJS juga dapat memengaruhi selaput lendir di mulut, mata, dan area kelamin.
  • Gejala sistemik: Beberapa individu juga mengalami gejala sistemik seperti demam, nyeri tenggorokan, nyeri sendi, dan kelelahan. Pada beberapa kasus yang berat dapat menimbulkan komplikasi pada paru – paru, pencernaan serta ginjal.

Berkonsultasi lebih lanjut dengan ahli medis

Masalah umum yang sering terjadi adalah fakta bahwa obat yang diminum untuk mengobati gejala prodromal sering dituduh menyebabkan reaksi. Obat – obat tersebut mencakup obat demam, anti nyeri, dan sekretolitik yang kadang tergabung dalam “obat batuk dan pilek” padahal obat – obat tersebut biasanya sudah pernah diminum sebelumnya dan dapat ditoleransi dan dimulai setelah gejala awal SJS terjadi. Perhatikan obat – obatan yang belum pernah diminum sebelumnya dan paparannya terjadi 4 minggu hingga 4 hari sebelum reaksi. Gejala ini biasanya muncul secara tiba-tiba dalam beberapa hari setelah terpapar penyebabnya, seperti obat-obatan tertentu atau infeksi.

Gejala SJS dapat terlihat secara kasat mata. Munculnya ruam kemerahan, luka lepuhan, dan rasa terbakar pada kulit sangat membuat penderita kesakitan. Apabila telah muncul gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan yang tepat menentukan metode pengobatan yang efektif bagi penyembuhan pasien.

Penulis: dr. Riezky Januar Pramitha, M.Ked.Klin, Sp.DVE

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *