FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mengenal Lebih Dekat Ecobrick Bersama Masyarakat Pulau Santen Banyuwangi

BERITA SIKIA – Rangkaian pemaparan materi pada kegiatan “Pengabdian Masyarakat Inisiasi Eduwisata Pantai Pulau Santen Melalui Pemberdayaan kelompok Masyarakat dalam Aspek Pengelolaan Sampah dan Konservasi Penyu.” Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi Program Studi Kedokteran Hewan bersama Kesehatan Masyarakat Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Universitas Airlangga Banyuwangi pada hari Sabtu (12/8/2023) di Gazebo Pintu Masuk Pantai Santen yang terletak tak jauh dari jantung kabupaten Banyuwangi.

Tingginya produksi sampah plastik yang dihasilkan masyarakat mendorong berbagai pengembangan pengolahan sampah yang tepat olah, guna, dan fungsi. Salah satunya adalah ecobrick yang merupakan inovasi fungsi limbah botol plastik menjadi blok bangunan sebagai struktur bangunan maupun furniture. Bahan yang dibutuhkan cukup sederhana, hanya potongan limbah non organik kering dengan bobot sekitar 250 gram yang dimasukkan ke dalam botol plastik.

Contoh pemanfaatan produk ecobrik. Foto: Istimewa

Teknik Memasukkan Sampah

Koordinator Bagian Organik Bank Sampah Banyuwangi (BSB), Agus Supriyadi, Amd. Kom menuturkan pembuatan ecobrick dapat dilakukan dengan mudah oleh masyarakat. Namun, terdapat tantangan bagi masyarakat yang ingin membuatnya. Mereka harus mengeluarkan tenaga untuk dapat menekan potongan limbah non organik yang dimasukkan. Agar potensi ruang didalam botol plastik dapat dimanfaatkan dengan maksimal.

“Penggunaan dongkrak sebenarnya dapat membantu masyarakat dalam memadatkan potongan plastik di dalam botol. hanya saja itu memerlukan cost produksi tambahan pembelian dongkrak itu,” tuturnya.

Bobot Ecobrick

Pembina Kelompok Kesejahteraan Sosial Karangrejo, Sugeng Pramono mengatakan bobot minimal perlu diperhatikan masyarakat agar ecobrick yang dibuat tidak mudah terlepas dari susunan struktur. Apabila potongan plastik terbatas, masyarakat dapat mengganti bahan tersebut dengan kain kering.

Standar yang digunakan adalah dengan berat 250 gram potongan plastik sampah yang dimasukkan dalam botol kemasan 600 gram,sebutnya.

Lewat produksi sampah Pulau Santen yang pernah mencapai tujuh gerobak dalam sehari. Tentu menjadi salah satu potensi dalam meningkatkan produksi ecobrick dari masyarakat sekitar. Sebelumnya Sugeng telah mensosialisasikan pembuatan ecobrick kepada masyarakat sekitar. Hanya saja peserta terbatas pada kelompok penerima manfaat dari Kementerian Sosial Republik Indonesia.

“Potensi sampah dapat membantu untuk Berdaya dengan apa yang yang ada disekitar kita,” katanya.

Lewat kebersamaan masyarakat yang terbentuk menjadi langkah segar dalam pengelolaan sampah yang ada disekitarnya. Bersama SIKIA dan mitra, masyarakat Pulau Santen siap berdaya untuk menjadi salah satu bagian percontohan pengembangan edukasi berbasis wisata dalam basis eduwisata.

Penulis: Gilang Avrilio

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *