FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Workshop Rothschildi 2026 di Alas Kedaton Kenalkan Teknik Vasektomi Primata

KABAR FIKKIA – Mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan FIKKIA UNAIR mengikuti workshop penanganan primata dalam Seminar Nasional Rothschildi 2026 Sabtu, (16/05/2025) di Alas Kedaton, Bali. Kegiatan ini membekali peserta dengan praktik ilmiah pengendalian populasi monyet ekor panjang melalui teknik vasektomi.

Workshop bertajuk “Vasectomy in Long-tailed Macaque” tersebut merupakan rangkaian lanjutan seminar yang digelar sehari sebelumnya. Seminar lebih berfokus pada pembahasan teori dan isu kesehatan primata. Workshop di Alas Kedaton memberikan kesempatan peserta melihat penerapan ilmu veteriner langsung di lapangan.

Kawasan Alas Kedaton dipilih karena dikenal sebagai habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) yang hidup berdampingan dengan aktivitas wisata masyarakat. Tingginya populasi primata di kawasan wisata sering kali menimbulkan tantangan baru. Mulai dari konflik antara manusia dan satwa, perubahan perilaku primata akibat interaksi wisatawan, hingga meningkatnya risiko penularan penyakit zoonosis.

Metode Vasektomi sebagai Pengendali Populasi

Workshop menghadirkan drh. Sri Kayati Widyastuti, M.Si. sebagai pemateri utama yang membahas teknik vasektomi pada monyet ekor panjang. Vasektomi dijelaskan sebagai salah satu metode pengendalian populasi primata dengan memutus saluran reproduksi jantan tanpa menghilangkan hormon alami maupun perilaku sosial satwa.

Drh Kayati menilai vasektomi lebih aman dan berkelanjutan dibandingkan relokasi atau eliminasi populasi. Pengendalian populasi diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus mengurangi risiko kepadatan populasi primata di kawasan wisata.

Workshop meliputi observasi perilaku satwa, teknik restrain atau pengamanan primata, pemeriksaan kondisi fisik, hingga prosedur anestesi untuk memastikan tindakan dilakukan dengan aman dan meminimalkan stres pada hewan.

Selain membahas teknik medis, workshop turut menyoroti pentingnya prinsip animal welfare atau kesejahteraan hewan dalam penanganan satwa liar. Penanganan primata tidak hanya mempertimbangkan pengendalian populasi, tetapi juga kondisi kesehatan, perilaku alami, dan keberlangsungan habitat satwa.

Menjaga Keseimbangan Interaksi Ekosistem

Topik zoonosis menjadi perhatian dalam kegiatan ini. Interaksi langsung manusia dan monyet ekor panjang di kawasan wisata dinilai dapat meningkatkan risiko penularan penyakit, baik dari satwa ke manusia maupun sebaliknya. Karena itu, pengelolaan populasi primata perlu dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Salah satu peserta perwakilan Wild Life Animal Care (WLAC) FIKKIA, Rendi (KH 25), mengatakan workshop lapangan seperti ini penting bagi mahasiswa kedokteran hewan karena memberikan gambaran nyata mengenai tantangan konservasi satwa liar di Indonesia.

“Mahasiswa tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga bisa melihat langsung bagaimana penanganan primata dilakukan secara profesional dengan tetap memperhatikan kesejahteraan satwa. Workshop ini membuka wawasan mengenai pentingnya peran dokter hewan dalam konservasi satwa liar,” ujarnya. Melalui workshop lapangan ini, Seminar Nasional Rothschildi 2026 tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga wadah pembelajaran praktis bagi calon dokter hewan untuk memahami tantangan kesehatan dan konservasi primata secara lebih mendalam.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *