BEM Keluarga Mahasiswa Sekolah Ilmu Kesehatan dan Ilmu Alam (SIKIA) Banyuwangi melalui program kerja Airlangga Ethno Eco-Tourism berhasil melaksanakan cultural trip dengan menghadirkan mahasiswa internasional. Program ini bertujuan untuk untuk branding Kabupaten Banyuwangi khususnya dibidang pariwisata, budaya, dan ekologi di kancah internasional melalui wisata edukasi dengan mengundang mahasiswa inbound dari luar negeri untuk meningkatkan potensi ekonomi di Kabupaten Banyuwangi.
Peserta yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti cultural trip ini adalah para mahasiswa internasional yang berasal dari Malaysia, Yaman, Tanzania dan sudah berhasil lolos dalam lomba kepenulisan essay tingkat nasional yang dilaksanakan oleh Airlangga Ethno Eco-Tourism dengan mengusung ide opini tentang Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan cultural trip ini berlangsung selama 3 hari dengan mengunjungi beberapa objek wisata alam maupun wisata budaya yang ada di Kabupaten Banyuwangi antara lain Kampung Lukis, Museum Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Pantai Cacalan, Pantai Boom, Pulau Tabuhan, dan diakhiri dengan kunjungan ke Pulau Merah.
Pada hari ke 3 pelaksanaan cultural trip, dilaksanakan agenda gala dinner dimana nantinya para peserta akan melaksanakan focus grup discussion bersama pemerintah daerah Kabupaten Banyuwangi yang akan membahas mengenai aspirasi dari para mahasiswa internasional terkait pariwisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Kegiatan ini dilaksanakan di Kampus Giri SIKIA UNAIR Banyuwangi dan dihadiri oleh beberapa tamu VIP yaitu perwakilan Bupati Kabupaten Banyuwangi, DKB (Dewan Kesenian Blambangan), Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Banyuwangi, Radar Banyuwangi serta ketua organisasi HMKI, B-PHA SIKIA, HMA SIKIA, HIMAKUA SIKIA, dan HMKH SIKIA.

Dalam kegiatan focus grup discussion dibuka dengan pemaparan kegiatan cultural trip yang sudah dilaksanakan oleh para peserta. Selanjutnya Lai Wei Qian selaku perwakilan dari mahasiswa internasional menyampaikan aspirasinya terhadap pariwisata yang ada di Banyuwangi. Lai menyebutkan bahwa dengan adanya begitu banyak pariwisata yang ada di Banyuwangi seharusnya pemerintah daerah lebih memperhatikan akan kebersihan dan kesediaan akan tempat sampah di destinasi-destinasi pariwisata.
Hal tersebut ditanggapi oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi bahwa sampah-sampah yang ada di destinasi wisata tersebut merupakan dampak banjir yang melanda Banyuwangi beberapa hari yang lalu dan pihak pemerintah daerah berencana menambah kesediaan tempat sampah yang ada di destinasi wisata. Tidak hanya itu, Mercy Kessy yang juga peserta cultural trip menyebutkan bahwa pemerintah daerah Banyuwangi harus lebih memanfaatkan kekayaan alam yang ada dan juga rutin melakukan konservasi agar kekayaan tersebut tetap terjaga.
Kegiatan focus grup discussion ini diakhiri dengan penyampaian feedback Pemerintah Daerah Banyuwangi mengenai aspirasi dari para mahasiswa internasional diikuti oleh penyerahan sertifikat kepada para peserta. “Dengan adanya kegiatan ini diharapkan lebih mengenalkan budaya dan pariwisata Kabupaten Banyuwangi kepada para mahasiswa internasional dan meningkatkan profit perekonomian karena turis asing yang berkunjung melakukan perjalanan wisata”. ucap Alfan Hidayat Kuswinarto selaku ketua pelaksana dari kegiatan Airlangga Ethno Eco-tourism.
Penulis : Islah Istiqomah
Editor : Choirun Nisa
