KABAR FIKKIA – Universitas Airlangga (UNAIR) kembali mencatat sejarah dengan menggelar prosesi wisuda perdana tahun 2026. Acara yang berlangsung di Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C Surabaya, pada Sabtu (11/4) hingga Minggu (12/04/2026), diikuti oleh 2.605 lulusan dari berbagai jenjang pendidikan jenjang diploma, sarjana, magister, dan doktoral.
Dari jumlah wisudawan tersebut, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA) turut meluluskan 28 wisudawan yang siap mengabdikan diri kepada masyarakat. Lulusan terdiri dari 2 Sarjana Perikanan (S.Pi) 5 Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.KM) dan 21 Sarjana Kedokteran Hewan (S.KH). Prosesi ini menjadi momentum penting awal perjalanan baru para alumni UNAIR.
Pesan Rektor Teruslah Pegang Teguh Nilai HEBAT
Dalam pidato penuh makna, Rektor UNAIR Prof. Dr. Muhammad Madyan SE, M.Si menegaskan bahwa para lulusan harus senantiasa menjaga nama baik almamater. Ia mengingatkan agar alumni UNAIR selalu berpegang pada nilai HEBAT (Humble, Excellent, Brave, Agile, Transcendent).
“UNAIR mengajarkan bahwa kompetensi harus berjalan seiring dengan moralitas. Ingatlah filosofi Excellence with Morality. Kalian boleh unggul dalam ilmu, tetapi tetap rendah hati dalam sikap,” ucap Prof. Madyan di hadapan ribuan wisudawan dan keluarga.
Prof. Madyan juga menyoroti reputasi UNAIR yang semakin diakui di panggung internasional. Menurutnya, capaian tersebut bukanlah hadiah yang instan, melainkan hasil kerja keras para mahasiswa yang berani menembus batas melalui prestasi akademik dan non-akademik.
“Keberanian kalian tampil di ajang diplomasi, debat global, hingga kompetisi internasional adalah bukti nyata kualitas pendidikan UNAIR. Dedikasi mahasiswa dalam melahirkan inovasi membuat kampus ini sejajar dengan universitas terbaik dunia,” tambahnya.
Perjalanan Menjadi Wisudawan Terbaik
Lulusan terbaik dari FIKKIA, Nadya Ashila KH 22, berhasil meraih predikat cum laude dengan IPK 3,77 hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Perjalanan akademiknya tidak selalu mudah. Pada awal kuliah, Nadya hanya berfokus pada perkuliahan. Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai aktif mengikuti berbagai kegiatan, seperti menjadi asisten dosen, asisten penelitian, PKM, P2MW, bergabung dalam organisasi, dan kepanitiaan. Aktivitas padat tersebut justru melatih keterampilan non-akademik sekaligus membentuk kedisiplinan dalam mengatur waktu.
Meski jadwalnya penuh, Nadya tetap konsisten menjaga prestasi akademik. Ia mengakui bahwa pencapaiannya tidak lepas dari dukungan keluarga, teman, dan dosen yang selalu memberi semangat. Mahasiswa asal Sidoarjo itu sangat bersyukur bisa mencapai titik ini. Awalnya ia tidak pernah menyangka mampu meraih hasil setinggi itu.
Bagi Nadya, keberanian untuk mencoba hal baru adalah kunci penting. Ia menilai bahwa proses belajar tidak hanya berasal dari buku, tetapi juga dari pengalaman pribadi, lingkungan sekitar, dan interaksi dengan orang lain.
Ia menekankan bahwa mahasiswa harus mampu menentukan prioritas, mengelola waktu dengan baik, dan menjaga konsistensi. Nadya berpesan kepada adik adik FIKKIA dan mahasiswa diluar sana agar jangan takut memulai sesuatu, karena setiap kesempatan bisa menjadi jalan menuju pencapaian.
“Langkah kecil yang dilakukan terus menerus tetap sebuah proses yang membawa hasil,” katanya.
Penulis: Amalia Sofi Ramadanti
Editor: Avicena C. Nisa
