FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Konsumsi Daging Biawak Makin Marak, Dokter Hewan FIKKIA UNAIR Beri Tanggapan

KABAR FIKKIA Biawak air adalah binatang liar yang hidup di berbagai wilayah di dunia. Konsumsi daging biawak air ternyata makin banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dengan menjamurnya kedai yang menyediakan menu olahan daging biawak. Sebagian masyarakat percaya bahwa daging biawak berkhasiat menjaga stamina tubuh dan dapat menyembuhkan penyakit. Namun di balik manfaat kesehatan yang dianggap ada, sejumlah bahaya kesehatan juga bisa muncul akibat konsumsi sejumlah hewan ekstrem.

Menanggapi hal tersebut, Maya Nurwartanti Yunita, drh., M.Si. selaku dosen Patologi Veteriner Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) UNAIR menyampaikan pendapatnya.

“Dilihat dari hasil nekropsi post mortem dan juga pemeriksaan laboratoris yang dilakukan untuk penegakan diagnosa beberapa waktu lalu, ditemukan ada beberapa endoparasit dan juga abnormalitas atau lesi-lesi pada organ” jelasnya.

Potensi Endoparasit Daging Biawak

Endoparasit yang hidup dalam tubuh biawak, tidak hanya berada pada organ, melainkan ada beberapa endoparasit ditemukan pada jaringan visera, otot, dan subkutan biawak. Salah satu endoparasit yang ditemukan yaitu Spirometra spp. Parasit ini dapat menyebabkan penyakit sparganosis pada manusia apabila mengkonsumsi produk reptil yang mentah atau setengah matang yang mengandung plerocercoid.

Stadium plerocercoid dapat menginfeksi di berbagai area tertentu dengan melakukan proliferasi seperti pada jaringan subkutan, mata, payudara, sumsum tulang belakang, dan otak, sehingga menyebabkan kerusakan jaringan signifikan yang mengarah ke kondisi patologis serius seperti kelumpuhan bahkan kematian pada kondisi penyakit kronis.

Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam mengolah bahan pangan asal hewan dari daging atau organ dari biawak tersebut mengingat adanya beberapa penyakit zoonosis yang bias ditularkan ke manusia.

“Perlu kehati-hatian dalam mengolah ataupun mengkonsumsinya” imbuh drh Maya saat ditemui kontributor FIKKIA NEWS

Biawak Sebagai Predator Alami

Dosen kedokteran hewan itupun menjelaskan dampak lain dari sisi kelestarian ekosistem. Sebagai predator alami, biawak berperan penting mengendalikan populasi mangsanya. Biawak memangsa hewan seperti tikus, serangga, dan hewan kecil lain, sehingga membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Perubahan populasi biawak secara langsung menjadi bioindikator yang menunjukkan perubahan lingkungan atau masalah ekosistem.

Biawak air di sungai. Foto: Mongabay Indonesia

Saat konsumsi daging biawak meningkat, maka perburuan pada biawak akan turut meningkat. Biawak termasuk dalam satwa yang belum dilindungi dan merupakan predator yang menjadi keseimbangan ekosistem alam.  Dalam Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora   (CITES), ia masuk daftar Appendix II, yang berarti tidak terancam punah. Akan tetapi, ada kemungkinan terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa ada pengaturan.

“Juga perlu diperhatikan untuk kelestarian ekosistem apabila biawak diburu untuk konsumsi tentunya akan mempengaruhi keseimbangan ekosistem lingkungan” jelasnya

Penulis: Fania Aulia Rahma

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *