FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Hari Keamanan Pangan Sedunia: Pengelolaan Limbah RPH Kunci Jaga Kesehatan dan Lingkungan

KABAR FIKKIA – Hari Keamanan Pangan Sedunia yang diperingati setiap 7 Juni menjadi momentum untuk mengingat bahwa keamanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kualitas produk yang dikonsumsi masyarakat. Di balik proses penyediaan pangan asal hewan, terdapat berbagai aspek yang turut memengaruhi kesehatan manusia dan lingkungan, salah satunya pengelolaan limbah di Rumah Potong Hewan (RPH).

Aktivitas pemotongan hewan menghasilkan limbah cair dan limbah padat setiap hari. Limbah tersebut berasal dari darah, air pencucian karkas, isi saluran pencernaan, hingga sisa jaringan dan organ yang tidak layak konsumsi. Apabila tidak ditangani dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan masyarakat.

Dosen Kedokteran Hewan FIKKIA Universitas Airlangga, Nur Rusdiana drh., M.Si., menjelaskan bahwa limbah cair dengan kandungan bahan organik tinggi dapat menurunkan kualitas air permukaan maupun air tanah. Akibatnya, masyarakat yang menggunakan sumber air tersebut berisiko mengalami berbagai gangguan kesehatan, terutama penyakit saluran pencernaan.

Nur Rusdiana drh., M.Si

Selain itu, penumpukan limbah padat dapat meningkatkan populasi lalat dan serangga yang berperan sebagai vektor mekanis berbagai penyakit. Kondisi tersebut juga berpotensi menimbulkan gangguan lingkungan berupa bau tidak sedap dan penurunan kualitas lingkungan di sekitar RPH.

Penerapan Biosecurity dalam Pengelolaan Limbah

Menurut Rusdiana, penerapan biosekuriti dan sanitasi menjadi bagian penting dalam sistem pengelolaan limbah yang efektif. Biosekuriti tidak hanya berfungsi mencegah masuknya penyakit ke fasilitas produksi, tetapi juga mengendalikan penyebaran agen penyakit melalui limbah yang dihasilkan.

Sementara itu, sanitasi yang baik dapat dilakukan melalui pembersihan fasilitas secara rutin, pengelolaan alur kerja yang higienis, penggunaan disinfektan secara tepat, serta pemisahan area bersih dan area kotor selama proses pemotongan berlangsung. Langkah-langkah tersebut membantu mengurangi risiko kontaminasi silang sekaligus meningkatkan keamanan produk asal hewan.

Rusdiana menambahkan bahwa kualitas pengelolaan limbah di RPH dapat dinilai melalui beberapa indikator, seperti keberadaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berfungsi optimal, pemisahan limbah berdasarkan jenisnya, pencatatan pengelolaan limbah, serta kepatuhan terhadap regulasi lingkungan.

“Pengelolaan limbah yang baik tidak hanya terlihat dari kebersihan area pemotongan, tetapi juga dari bagaimana limbah diproses sehingga tidak memberikan dampak negatif terhadap masyarakat maupun lingkungan,” ujarnya.

Peran dan Tantangan Dokter Hewan

Dalam sistem RPH modern, dokter hewan juga memiliki peran strategis. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan hewan dan pengawasan keamanan pangan, dokter hewan bertanggung jawab mengevaluasi sistem sanitasi, mengawasi penerapan biosekuriti, serta memberikan rekomendasi pengelolaan limbah sesuai prinsip kesehatan masyarakat veteriner.

Meski demikian, penerapan pengelolaan limbah yang ideal masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas pengolahan limbah, anggaran operasional, hingga kurangnya tenaga yang memiliki kompetensi khusus di bidang tersebut. Karena itu, peningkatan kualitas pengelolaan limbah memerlukan kolaborasi berbagai pihak melalui penguatan fasilitas, pengawasan, serta edukasi berkelanjutan.

Dalam era One Health yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan, pengelolaan limbah RPH menjadi salah satu fondasi penting yang tidak boleh diabaikan. Pengelolaan limbah yang tepat tidak hanya menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga mendukung keamanan pangan dan melindungi kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *