FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Iduladha sebagai Momentum Perbaikan Gizi Anak

Momentum Iduladha tidak hanya bermakna sebagai ibadah dan tradisi berbagi. Perayaan ini juga menghadirkan kesempatan untuk meningkatkan akses protein hewani bagi masyarakat. Di tengah masih rendahnya konsumsi daging dan tingginya tantangan gizi anak di Indonesia, distribusi daging kurban dapat menjadi bagian dari upaya memperbaiki kualitas asupan gizi keluarga.

Namun faktanya, sedikit anak yang justru jarang mengonsumsi daging sehingga kurang familiar dengan tekstur maupun rasanya. Keluhan seperti “alot” atau “sulit dimakan” sering muncul. Padahal kondisi tersebut bisa jadi bukan karena anak tidak menyukai daging, melainkan karena minimnya paparan terhadap pangan hewani tersebut. Ketika daging diolah menjadi bakso, nugget, atau makanan yang lebih ramah anak, penerimaannya cenderung lebih baik.

Fenomena ini menunjukkan bahwa Iduladha bukan hanya momen ibadah dan berbagi, tetapi juga kesempatan penting untuk memperbaiki kualitas gizi anak melalui peningkatan akses terhadap protein hewani.

Konsumsi Protein Hewani di Indonesia Masih Rendah

Isu ini menjadi relevan mengingat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Menteri Kesehatan RI menyebutkan bahwa meskipun konsumsi protein masyarakat Indonesia telah memenuhi standar nasional, konsumsi protein hewani masih relatif rendah dibanding kebutuhan ideal masyarakat (Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Kondisi tersebut terlihat pula pada konsumsi daging sapi nasional. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan konsumsi daging sapi segar masyarakat Indonesia pada tahun 2024 hanya mencapai 0,45 kg per kapita per tahun, menurun sekitar 10% dibanding tahun sebelumnya dan menjadi angka terendah dalam lima tahun terakhir (Badan Pangan Nasional, 2025).

Angka tersebut memperlihatkan bahwa daging sapi bukanlah sumber pangan yang dikonsumsi secara rutin oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab yang tidak bisa diabaikan. Pada banyak rumah tangga, prioritas konsumsi lebih diarahkan pada sumber protein yang lebih terjangkau seperti tempe, tahu, telur, maupun ikan.

Meski sumber protein nabati tetap memiliki peran penting, akses terhadap protein hewani tetap diperlukan karena mengandung asam amino esensial serta berbagai mikronutrien yang mendukung pertumbuhan anak.

Peran Daging Merah dalam Mendukung Tumbuh Kembang Anak

Masa anak-anak merupakan periode penting yang membutuhkan asupan gizi optimal untuk menunjang pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif. Salah satu keunggulan daging merah adalah kandungan protein berkualitas tinggi, zat besi heme, zink, serta vitamin B12 yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan pertumbuhan.

Zat besi heme memiliki tingkat penyerapan yang lebih baik dibanding zat besi non-heme yang berasal dari pangan nabati. Oleh karena itu, keberadaan protein hewani tetap menjadi komponen penting dalam pola makan seimbang anak (WHO, 2023).

Di Indonesia, persoalan gizi anak masih menjadi tantangan. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang mengintegrasikan Riskesdas dan SSGI menunjukkan bahwa status gizi anak masih menjadi fokus pembangunan kesehatan nasional, termasuk upaya perbaikan kualitas konsumsi dan pemenuhan gizi masyarakat (BKPK Kemenkes RI, 2024).

Dengan demikian, pemanfaatan daging kurban tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan protein sesaat, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya mendukung kualitas asupan anak.

Iduladha dan Tantangan Gizi Anak Indonesia

Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan gizi, salah satunya stunting. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8%, meskipun menunjukkan tren penurunan dibanding tahun sebelumnya (Kemenkes RI, 2025).

Angka tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan gizi anak masih memerlukan perhatian serius. Dalam konteks ini, Iduladha memiliki nilai strategis karena distribusi daging kurban dapat menjadi sarana pemerataan akses protein hewani, khususnya bagi anak-anak yang sehari-hari jarang memperoleh sumber protein berkualitas.

Meskipun konsumsi daging saat Iduladha bersifat musiman, momentum ini dapat menjadi pintu masuk edukasi mengenai pentingnya protein hewani dalam masa pertumbuhan.

Optimalisasi Daging Kurban untuk Anak

Pemanfaatan daging kurban tidak cukup berhenti pada pembagian semata. Edukasi pengolahan dan pemanfaatan daging juga perlu diperhatikan agar manfaat gizinya lebih optimal bagi anak.

Masih banyak keluarga yang mengolah daging kurban menjadi menu tinggi santan dan lemak yang dikonsumsi dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Padahal, daging kurban dapat diolah menjadi berbagai menu yang lebih sesuai untuk anak seperti bola daging, rolade, semur, abon, perkedel daging, maupun campuran bubur dan nasi tim.

Hidangan bola daging panggang memudahkan anak mengunyah. Sumber: tipsrumah.com

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan penerimaan anak terhadap daging, tetapi juga menjadi cara mengenalkan protein hewani sejak dini. Tidak disarankan mengolah daging menjadi makanan ultra process food (UPF) seperti bakso dan sosis. Selain tinggi garam, gula, dan lemak daging sudah kehilangan struktur serat alaminya. Proses makanan yang berlebihan juga mengurangi kandungan nutrisi pada daging.

Selain itu, distribusi yang baik, penyimpanan higienis, serta pemanfaatan bertahap juga penting untuk menjaga kualitas gizi dan meminimalkan pemborosan pangan.

Iduladha sebagai Momentum Perbaikan Gizi Anak

Iduladha pada akhirnya menghadirkan makna yang lebih luas daripada sekadar perayaan tahunan. Di balik pembagian daging kurban, terdapat peluang untuk memperkuat kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi anak.

Narasi yang dibangun tidak lagi sekadar “membagi daging”, tetapi juga “membagi akses gizi”. Bagi keluarga yang memiliki keterbatasan akses terhadap protein hewani, kehadiran daging kurban dapat menjadi tambahan asupan yang bernilai.

Mungkin bagi sebagian orang, satu bungkus daging kurban hanyalah bagian dari tradisi yang hadir setiap tahun. Namun, bagi sebagian anak lain, itu bisa menjadi kesempatan langka untuk menikmati protein hewani yang jarang mereka peroleh.

Karena itu, Iduladha layak dimaknai bukan hanya sebagai momentum berbagi, tetapi juga sebagai langkah kecil menuju perbaikan gizi anak Indonesia.

Daftar Pustaka

Badan Pangan Nasional (Bapanas). 2025. Konsumsi Daging Sapi per Kapita Turun pada 2024, Level Terendah Baru. Databoks Katadata. Tersedia pada: Databoks Katadata. Diakses 26 Mei 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Konsumsi Protein Hewani Masyarakat Indonesia Masih Rendah. Disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI pada peringatan Hari Susu Sedunia. Dipublikasikan melalui ANTARA News. Diakses 26 Mei 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2024. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia. 2025. Survei Status Gizi Indonesia (SSGI): Prevalensi Stunting Nasional Tahun 2024 sebesar 19,8%. Tersedia pada: Portal Percepatan Penurunan Stunting Indonesia. Diakses 26 Mei 2026.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2020. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

World Health Organization. 2023. Anaemia in Children and Women: Global Health Estimates. Geneva: WHO.

UNICEF. 2023. The State of the World’s Children: For Every Child, Nutrition. New York: UNICEF.

Penulis: Annisa Dwi Cahyani (Mahasiswa Kesehatan Masyarakat FIKKIA)

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *