KABAR FIKKIA – Fenomena El Nino yang menyebabkan peningkatan suhu dan berkurangnya curah hujan berpotensi memengaruhi sektor budidaya perikanan. Perubahan kondisi lingkungan perairan dapat berdampak pada kualitas air, kesehatan ikan, serta produktivitas usaha budidaya. Dosen Manajemen Lingkungan Akuatik Program Studi Akuakultur FIKKIA Universitas Airlangga, Alin Asyabil, S.Pi., M.P., menjelaskan sejumlah langkah mitigasi yang dapat dilakukan pembudidaya untuk mengurangi risiko tersebut.

Dampak El Nino terhadap Kualitas Air
Menurut Alin, peningkatan suhu udara dapat memengaruhi berbagai parameter kualitas air yang berperan penting dalam keberhasilan budidaya. Suhu yang lebih tinggi meningkatkan laju penguapan sehingga dapat menyebabkan perubahan salinitas pada beberapa sistem budidaya, terutama di wilayah pesisir.
Selain itu, peningkatan suhu juga berpengaruh terhadap kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO). Semakin tinggi suhu air, semakin rendah kemampuan air dalam mempertahankan oksigen terlarut yang dibutuhkan ikan dan organisme budidaya lainnya.
Di sisi lain, suhu yang tinggi dapat mempercepat proses dekomposisi bahan organik seperti sisa pakan dan kotoran ikan. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan konsentrasi amonia bebas (NH3) yang bersifat toksik bagi organisme budidaya apabila tidak dikelola dengan baik.
“Ketika suhu air meningkat, kadar oksigen terlarut dapat menurun dan toksisitas amonia meningkat. Kondisi ini dapat menimbulkan stres pada ikan sehingga lebih rentan terhadap serangan penyakit,” jelas Alin.
Strategi Mitigasi di Tingkat Pembudidaya
Untuk mengurangi dampak perubahan lingkungan selama periode El Nino, pembudidaya perlu menerapkan manajemen kualitas air yang lebih intensif. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah penggunaan paranet atau peneduh untuk membantu mengurangi paparan sinar matahari secara langsung pada kolam budidaya.
Optimalisasi aerasi juga menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan oksigen terlarut. Penggunaan kincir air atau aerator dapat membantu meningkatkan sirkulasi air, terutama pada malam hingga dini hari ketika kadar oksigen cenderung menurun.

Selain pengelolaan air, pemberian pakan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Pada saat suhu air meningkat, pembudidaya disarankan memantau nafsu makan ikan dan menghindari pemberian pakan berlebihan yang dapat meningkatkan akumulasi bahan organik di dasar kolam.
Pengaturan kepadatan tebar juga perlu diperhatikan untuk mengurangi kompetisi oksigen dan menjaga kondisi lingkungan budidaya tetap stabil.
Menjaga Kesehatan Ikan Selama El Nino
Alin menjelaskan bahwa upaya menjaga kesehatan ikan dapat dilakukan melalui penerapan biosekuriti yang baik dan pemantauan kualitas air secara rutin. Penggunaan probiotik sesuai kebutuhan juga dapat membantu menjaga keseimbangan mikroorganisme di lingkungan budidaya.
Selain itu, penambahan vitamin atau bahan pendukung kesehatan lainnya dapat dipertimbangkan untuk membantu mempertahankan kondisi fisiologis ikan selama menghadapi stres lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan budidaya pada periode El Nino sangat bergantung pada kemampuan pembudidaya dalam melakukan pemantauan dan penyesuaian manajemen secara cepat.
“Mitigasi terhadap dampak El Nino perlu dilakukan secara terencana melalui pengelolaan kualitas air, kesehatan ikan, dan sistem budidaya yang baik. Dengan langkah tersebut, risiko kerugian dapat diminimalkan dan produktivitas budidaya tetap terjaga,” tutup Alin.
Penulis: Fara Azzarani
Editor: Avicena C. Nisa
