FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Dari Data ke Tindakan, Peran Bidan dalam Pemantauan Kesehatan Ibu dan Anak

KABAR FIKKIA – Peringatan Hari Bidan Nasional menjadi momentum untuk menegaskan kembali peran strategis bidan dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Selain memberikan pelayanan klinis, bidan juga berperan mengumpulkan dan memanfaatkan data kesehatan sebagai dasar penyusunan program yang lebih tepat sasaran di tingkat pelayanan primer.

Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes.,

Dosen peminatan Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga, Jayanti Dian Eka Sari, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa data yang dihimpun melalui posyandu maupun pelayanan kesehatan primer memiliki nilai penting apabila dianalisis secara komprehensif.

Data Menjadi Dasar Pengambilan Keputusan

Menurut Jayanti, data surveilans kesehatan ibu dan anak tidak seharusnya berhenti sebagai laporan administratif. Data tersebut perlu dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kelompok yang membutuhkan perhatian, menentukan faktor risiko, serta menyusun strategi promosi kesehatan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

“Data merupakan evidence base dalam pengambilan keputusan. Tanpa data, program kesehatan hanya berdasarkan asumsi atau subjektivitas,” jelasnya.

Ia mencontohkan, ibu hamil yang tidak rutin menjalani pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) dapat mengindikasikan rendahnya persepsi terhadap risiko kehamilan atau adanya hambatan dalam mengakses layanan kesehatan. Sementara itu, balita yang tidak rutin ditimbang dapat menunjukkan rendahnya partisipasi keluarga atau kendala dalam pelaksanaan posyandu.

Data Perilaku Dukung Intervensi yang Tepat Sasaran

Jayanti menjelaskan bahwa informasi tersebut memungkinkan bidan melakukan pemetaan sasaran berdasarkan karakteristik masyarakat. Dengan demikian, edukasi dan intervensi kesehatan tidak diberikan secara umum, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan setiap keluarga.

Menurutnya, pemanfaatan data juga perlu dipadukan dengan analisis perilaku masyarakat agar program kesehatan tidak hanya berfokus pada penurunan angka kasus, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan.

“Ketika surveilans dipadukan dengan promosi kesehatan berbasis teori perilaku, data tidak lagi berhenti menjadi angka, tetapi menjadi dasar intervensi yang lebih tepat sasaran, partisipatif, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Jayanti menambahkan bahwa Indonesia terus mengembangkan sistem pencatatan dan pemantauan kesehatan ibu dan anak. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap data yang dikumpulkan benar-benar dimanfaatkan dalam penyusunan program kesehatan di tingkat pelayanan primer.

Melalui peran tersebut, bidan tidak hanya menjadi penyedia layanan kesehatan, tetapi juga berkontribusi dalam menghasilkan data yang mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti. Pemanfaatan data yang optimal diharapkan mampu meningkatkan efektivitas program kesehatan ibu dan anak sekaligus memperkuat upaya promotif dan preventif di masyarakat.

Penulis: Annisa Dwi Cahyani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *