KABAR FIKKIA – Alumni Kesehatan Masyarakat FIKKIA UNAIR, Syahrul Ramadhan S.KM, berhasil meraih beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk melanjutkan studi Master of Public Health di Monash University Indonesia. Perjalanan Syahrul menuju titik tersebut tidaklah mudah. Keterbatasan ekonomi, waktu, hingga perjuangan meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris harus dilalui. Mahasiswa angkatan 2019 itu berkenan berbagi cerita perjalanannya menuju awardee LPDP Monash University 2025.
Selama kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan akademik maupun pengabdian masyarakat hingga berhasil menjadi wisudawan berprestasi SIKIA 2022. Usai lulus, ia sempat bekerja selama dua tahun sebelum akhirnya memutuskan mencoba mendaftar LPDP jalur non-LoA.
Awalnya, Syahrul tidak terlalu percaya diri untuk memilih kampus dengan nuansa internasional. Syarat kemampuan bahasa inggris yang cukup tinggi membuatnya sedikit bimbang. Namun, optimisme terbuka ketika LPDP afirmasi prasejahtera dalam negeri pada batch 2 tahun 2024 tidak lagi mewajibkan sertifikat bahasa Inggris saat pendaftaran.
“Awalnya saya ingin memilih kampus dalam negeri biasa karena merasa kuliah internasional itu cukup sulit, apalagi harus memenuhi syarat IELTS. Ternyata Monash University Indonesia masuk daftar kampus domestik LPDP, jadi saya mencoba mengambil kesempatan itu,” ujarnya.

Keputusan memilih Monash University Indonesia juga didasari ketertarikannya pada kurikulum berbasis riset. Hal ini yang selaras dengan minatnya di bidang kesehatan lingkungan dan perubahan iklim. Menurutnya, isu climate change menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang perlu mendapat perhatian lebih di Indonesia.
“Saya tertarik dengan fokus riset di Monash yang banyak membahas lingkungan dan perubahan iklim. Saya ingin nantinya bisa berkontribusi membantu pengembangan desa iklim atau memperbaiki program desa iklim di Indonesia,” jelasnya.
Tantangan dan Kegagalan
Meski berhasil lolos LPDP dalam satu kali percobaan, ia sempat mengalami kegagalan saat memenuhi syarat IELTS untuk Monash University. Syahrul memperoleh kesempatan mengikuti Monash English Program (MEP) secara gratis karena statusnya sebagai awardee LPDP. Program tersebut berlangsung selama tiga bulan secara daring dan membantunya meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sekaligus memahami budaya pembelajaran di Monash University.
Di sisi lain, ia melakukan retake IELTS pada salah satu bagian tes dan berhasil memperoleh skor yang memenuhi persyaratan kampus. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa kegagalan terkadang justru membuka peluang baru yang lebih baik.
“Ternyata kegagalan itu membawa saya ke kesempatan lain. Saya bisa belajar lebih banyak tentang sistem pembelajaran di Monash dan kemampuan bahasa Inggris saya juga jauh lebih meningkat,” tuturnya.
Seleksi LPDP
Syahrul menjelaskan bahwa proses seleksi LPDP membutuhkan persiapan yang matang. Terutama dalam membaca panduan, menyusun esai, dan mempersiapkan tes skolastik. Baginya, tantangan terbesar justru datang dari kemampuan mengatur waktu dan memahami tujuan kontribusi yang ingin disampaikan kepada LPDP.
“Menurut saya, membaca dan riset informasi itu wajib bagi pejuang beasiswa. Karena dari situ kita tahu aturan, strategi, dan bagaimana mempersiapkan diri dengan baik,” ungkapnya.
Di akhir wawancara, Syahrul berpesan agar mahasiswa tidak takut mencoba berbagai peluang beasiswa yang tersedia. Ia menekankan bahwa keberanian untuk mencoba dan melakukan evaluasi menjadi kunci penting dalam proses meraih mimpi.
“Coba dulu saja. Kalau berhasil, alhamdulillah. Kalau belum, evaluasi apa yang kurang dan perbaiki lagi. Yang penting jangan berhenti belajar, membaca, dan mencoba,” pesannya.
Penulis: Muhammad Ridwan
Editor: Avicena C. Nisa
