KABAR FIKKIA – Manajemen kesehatan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keberlangsungan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penerapannya perlu dilakukan sejak pemilihan benur hingga masa pemeliharaan di kolam. Hal tersebut dibahas dalam Workshop Laboratorium yang menghadirkan Advisor Teknis Shrimp Club Indonesia (SCI) Banyuwangi, Ir. Suprapto. Kegiatan berlangsung Sabtu (12/09/2026) dan diikuti 35 peserta yang terdiri atas petambak, laboran, dan teknisi.
Pemeriksaan Benur Sebelum Penebaran
Dalam pemaparannya, Ir. Suprapto menjelaskan pentingnya pemeriksaan mutu benur sebelum ditebar ke kolam. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui pengamatan mikroskopis di laboratorium mini.
Beberapa indikator yang dapat diamati meliputi keberadaan butiran lemak (lipid droplet) pada hepatopankreas. Cadangan energi tersebut dibutuhkan benur setelah proses penebaran.

Kondisi saluran pencernaan juga menjadi bagian dari pemeriksaan. Benur yang sehat memiliki saluran pencernaan yang terisi pakan.
Selain itu, peserta diperkenalkan pada pengamatan rasio ketebalan otot terhadap saluran pencernaan (Muscle-Gut Ratio/MGR). Ir. Suprapto menyampaikan bahwa nilai MGR minimal 3:1 pada segmen keenam dapat menjadi salah satu indikator dalam pemeriksaan kondisi benur.
Pemeriksaan juga mencakup kondisi jaringan dan keberadaan organisme yang menempel pada tubuh benur. Nekrosis serta organisme epikomensal seperti protozoa dan ciliate perlu diperhatikan karena dapat mengganggu kesehatan benur.
Aklimatisasi Sebelum Benur Ditebar
Proses aklimatisasi menjadi tahapan penting sebelum benur masuk ke kolam. Aklimatisasi dilakukan dengan menyesuaikan suhu dan salinitas secara bertahap menggunakan wadah yang dilengkapi aerasi.
“Ketika proses penebaran berlangsung, aklimatisasi suhu dan salinitas di dalam wadah beraerasi merupakan prosedur wajib untuk mencegah terjadinya kejutan lingkungan (environmental shock) pada post-larva,” jelas Ir. Suprapto.
Ia juga menjelaskan pentingnya mencegah masuknya air dari kantong pengangkutan benur ke kolam utama. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko masuknya patogen atau kontaminan dari lingkungan pembenihan (hatchery).
Tiga Pilar Manajemen Kesehatan Udang
Setelah penebaran, pemantauan kondisi udang dan lingkungan perlu dilakukan secara berkala. Pengamatan dapat dilakukan melalui anco, pengukuran pertumbuhan harian atau Average Daily Growth (ADG), serta pemeriksaan kondisi organ udang.
Ir. Suprapto menjelaskan tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kesehatan udang. Aspek tersebut meliputi stabilitas kualitas air, pengelolaan pakan, dan pengelolaan mikroflora lingkungan.
Pertama, kualitas air perlu dijaga agar tetap stabil. Perubahan pH dan suhu secara mendadak dapat menyebabkan stres pada udang dan memengaruhi kondisinya.
Baca juga: SCI Banyuwangi dan FIKKIA Bedah Pentingnya Presisi Data Kualitas Air untuk Budidaya Udang Vannamei
Kedua, pengelolaan pakan perlu disesuaikan dengan kebutuhan udang. Penggunaan feed additive, seperti vitamin C, mineral, dan beta-glukan, dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan pakan sesuai kebutuhan budidaya.
Ketiga, pengelolaan mikroflora lingkungan dapat dilakukan melalui penggunaan probiotik. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi tambak dan tujuan pengelolaan mikroorganisme.
Selain pemantauan lingkungan, pemeriksaan mikroskopis pada organ seperti insang dan hepatopankreas dapat dilakukan secara berkala. Hasil pengamatan dapat menjadi bahan evaluasi kondisi kesehatan udang.
Melalui materi tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai tahapan manajemen kesehatan udang, mulai dari pemeriksaan benur, aklimatisasi, hingga pemantauan kondisi udang dan lingkungan selama pemeliharaan.
Penulis: Farra Azzahrani
Editor: Avicena C. Nisa
