FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

SCI Banyuwangi dan FIKKIA Bedah Pentingnya Presisi Data Kualitas Air untuk Budidaya Udang Vannamei

KABAR FIKKIA – Kualitas data menjadi salah satu aspek penting dalam menentukan tindakan pengelolaan tambak udang vannamei. Parameter fisik, kimia, dan biologi perairan perlu dipantau secara berkala agar pembudidaya dapat mengambil keputusan berdasarkan kondisi tambak.

Hal tersebut disampaikan Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Cabang Banyuwangi, Ir. Yanuar Toto Raharjo, dalam Workshop Laboratorium Manajemen Kesehatan Udang Vannamei. Kegiatan berlangsung di Ruang Sidang Kampus Giri FIKKIA Universitas Airlangga Banyuwangi pada Sabtu (12/09/2026).

Integritas Data Menentukan Ketepatan Perlakuan Tambak

Dalam pemaparannya, Yanuar menjelaskan pentingnya presisi dan akurasi data kualitas air. Menurutnya, data tersebut menjadi dasar dalam menentukan perlakuan (treatment) yang sesuai dengan kondisi tambak.

Ia menekankan bahwa pengelolaan budidaya udang tidak hanya berkaitan dengan pemeliharaan hewan budidaya. Kondisi lingkungan perairan juga perlu menjadi perhatian karena perubahan parameter dapat memengaruhi kesehatan dan pertumbuhan udang.

Peserta menyimak materi yang diberikan. Sumber: Istimewa

Data kualitas air, lanjutnya, tidak sebaiknya diperoleh dari satu kali pengukuran. Pemantauan perlu dilakukan secara rutin dan terstruktur untuk melihat pola perubahan parameter dari waktu ke waktu.

Baca juga: FIKKIA UNAIR Gandeng SCI dan FORTEL Gelar Workshop Manajemen Kesehatan Udang Vannamei

Validasi metode pengukuran juga menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas data. Acuan standar seperti SNI atau ISO dapat digunakan sesuai kebutuhan dan metode pengujian yang diterapkan.

Data yang tidak akurat dapat menghasilkan interpretasi yang keliru. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan pembudidaya memberikan perlakuan yang tidak sesuai dengan kondisi perairan.

Memahami Hubungan Antarparameter Kualitas Air

Materi juga membahas keterkaitan berbagai parameter kualitas air dengan kondisi lingkungan tambak. Salah satunya adalah dinamika Oksigen Terlarut (Dissolved Oxygen/DO) yang dapat berubah sepanjang siklus harian.

Peserta juga diajak memahami siklus nitrogen melalui parameter Total Ammonia Nitrogen (TAN), nitrit, dan nitrat. Ketiganya perlu diamati sebagai bagian dari pemantauan kondisi perairan budidaya.

Selain itu, Yanuar menjelaskan hubungan pH dan alkalinitas dalam menjaga kondisi perairan. Parameter tersebut tidak dapat dibaca secara terpisah karena perubahan salah satunya dapat berkaitan dengan perubahan parameter lainnya.

Pemantauan aspek biologis turut menjadi bagian pembahasan. Peserta diperkenalkan pada pengamatan komunitas alga, termasuk kelompok Chlorophyta, Chrysophyta, dan Cyanophyta.

Komponen bakteri juga perlu diperhatikan dalam pemantauan kesehatan lingkungan tambak. Parameter seperti Total Bacterial Count (TBC) dan Total Vibrio Count (TVC) dapat menjadi bagian dari pemeriksaan kondisi mikrobiologis perairan.

Data Mendukung Biosekuriti Budidaya

Pemahaman terhadap data kualitas air menjadi bagian dari penerapan manajemen budidaya berbasis data (data-driven aquaculture). Pendekatan tersebut membantu pembudidaya menghubungkan hasil pengukuran dengan kondisi aktual tambak.

Dalam sistem budidaya intensif, informasi tersebut dapat digunakan bersama parameter produksi lainnya, termasuk efisiensi penggunaan pakan yang tercermin melalui Feed Conversion Ratio (FCR).

Pemantauan lingkungan juga berkaitan dengan penerapan biosekuriti. Dengan mengetahui perubahan kondisi perairan, pembudidaya dapat melakukan evaluasi dan menentukan langkah pengelolaan sesuai dengan kondisi yang terukur.

Workshop ini mempertemukan perspektif akademisi dan praktisi dalam membahas pengelolaan kesehatan udang. Kegiatan tersebut sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk memahami penggunaan data laboratorium dalam pengambilan keputusan di lapangan.

Penulis: Farra Azzahrani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *