KABAR FIKKIA – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit ini terus ditemukan di berbagai daerah setiap tahun. Mobilitas penduduk yang tinggi meningkatkan risiko penularan DBD. Kepadatan lingkungan dan perubahan iklim turut memperbesar ancaman penyakit tersebut.
Memperingati Hari Dengue ASEAN pada 15 Juni, dosen Kesehatan Masyarakat FIKKIA Universitas Airlangga, Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes., mengingatkan pentingnya pencegahan berkelanjutan. Menurutnya, pengendalian DBD membutuhkan penguatan surveilans dan partisipasi aktif masyarakat.

Surveilans untuk Mendeteksi Risiko Lebih Dini
Ayik menjelaskan bahwa surveilans menjadi fondasi pengendalian DBD. Sistem ini membantu tenaga kesehatan mendeteksi peningkatan risiko lebih awal. Data surveilans digunakan untuk memantau tren kasus. Data tersebut juga membantu mengidentifikasi wilayah dengan risiko penularan tinggi.
“Data surveilans merupakan komponen utama dalam sistem peringatan dini. Tanpa surveilans, respons sering dilakukan setelah kasus meningkat,” ujarnya.
Surveilans DBD tidak hanya memantau jumlah penderita. Kegiatan ini juga mencakup pengamatan vektor penular penyakit. Data yang diamati meliputi jumlah kasus dan angka kematian. Distribusi umur penderita dan lokasi kasus juga dipantau. Selain itu, petugas mengamati kepadatan vektor dan tempat perindukan nyamuk. Surveilans entomologi dilakukan melalui pemeriksaan jentik nyamuk. Pengamatan menggunakan indikator House Index, Container Index, Breteau Index, dan Angka Bebas Jentik.
Menurut Ayik, peningkatan kepadatan larva sering muncul sebelum lonjakan kasus manusia. Karena itu, pemantauan jentik memiliki peran penting dalam pencegahan.
“Jika kepadatan larva meningkat, intervensi dapat dilakukan sebelum muncul lonjakan kasus manusia,” jelasnya.
Ayik juga menyoroti pemanfaatan Geographic Information System (GIS). Teknologi tersebut membantu mengidentifikasi hotspot dan klaster kasus DBD.
PSN 3M Plus Tetap Menjadi Strategi Utama
Selain surveilans, Ayik menegaskan pentingnya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus. Strategi ini dinilai paling efektif untuk menekan angka kasus DBD. PSN 3M Plus meliputi menguras tempat penampungan air. Langkah lainnya adalah menutup tempat penampungan air dan mendaur ulang barang bekas.
“PSN 3M Plus mampu memutus siklus hidup nyamuk sebelum terjadi penularan. Fogging bukan solusi utama pencegahan DBD,” tegasnya.
Penggunaan larvasida dapat menjadi langkah tambahan pengendalian. Kelambu dan tanaman pengusir nyamuk juga dapat dimanfaatkan masyarakat. Peneliti Epidemiologi itu menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat. Peran kader kesehatan dan Jumantik rumah tangga perlu terus diperkuat.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian DBD memerlukan keterlibatan semua pihak. Upaya tersebut tidak dapat dibebankan kepada pemerintah saja.
“Lingkungan bebas jentik adalah investasi kesehatan bagi keluarga dan masyarakat. Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati,” tutup Ayik.
Penulis: Annisa Dwi Cahyani
Editor: Avicena C. Nisa
