FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kandang Penampungan Ideal, Hewan Kurban Nyaman

Aktivitas penjualan dan penampungan hewan kurban mulai terlihat di berbagai daerah menjelang Hari Raya Idul Adha. Sapi, kambing, dan domba didatangkan dari berbagai wilayah untuk dipersiapkan sebelum proses penyembelihan. Di tengah meningkatnya kebutuhan hewan kurban setiap tahun, perhatian tertuju pada perawatan hewan di tempat penampungan.

Kondisi hewan sebelum disembelih sangat memengaruhi kualitas daging yang dihasilkan. Hewan yang mengalami stres, kelelahan, dehidrasi, atau gangguan kesehatan selama masa penampungan berisiko menghasilkan daging dengan kualitas rendah, lebih alot, bahkan lebih cepat mengalami pembusukan setelah dibagikan kepada masyarakat.

Menurut Grandin (2014), stres pada hewan sebelum penyembelihan dapat memengaruhi kualitas karkas dan kesejahteraan hewan secara keseluruhan. Faktor seperti kepadatan kandang, suhu lingkungan yang terlalu panas, kebisingan, perjalanan transportasi yang panjang, serta penanganan kasar menjadi penyebab utama stres pada hewan kurban di tempat penampungan.

Hindari Kelelahan Fisik dan Stres Kandang

Perawatan hewan kurban sebenarnya dimulai sejak hewan tiba di lokasi penampungan. Hewan membutuhkan waktu adaptasi setelah perjalanan jauh karena proses transportasi sering menyebabkan kelelahan fisik dan stres. Dalam kondisi tersebut, hewan memerlukan tempat istirahat yang nyaman dengan lingkungan yang tenang agar kondisi tubuhnya kembali stabil sebelum penyembelihan dilakukan.

Kandang penampungan perlu memiliki sirkulasi udara yang baik, pencahayaan cukup, serta perlindungan dari panas matahari dan hujan. Pada banyak kasus di lapangan, hewan kurban masih ditempatkan di area sempit dengan alas kandang yang kotor dan licin. Kondisi ini meningkatkan risiko cedera, infeksi, serta gangguan pernapasan pada hewan.

Menurut Hafez dan Hafez (2000), kondisi lingkungan kandang yang tidak nyaman dapat memengaruhi perilaku alami hewan dan meningkatkan respons stres. Hewan yang terus-menerus berada dalam kondisi tidak nyaman cenderung mengalami penurunan nafsu makan, lebih mudah sakit, dan mengalami gangguan metabolisme tubuh.

Selain kandang yang layak, kebutuhan pakan dan air minum juga menjadi faktor penting selama masa penampungan. Hewan kurban tetap membutuhkan asupan nutrisi yang cukup untuk menjaga kondisi tubuhnya tetap stabil. Pemberian air minum yang bersih harus tersedia setiap saat karena dehidrasi dapat mempercepat peningkatan suhu tubuh dan memicu stres berat pada hewan.

Terapkan Prinsip Animal Welfare

Kementerian Pertanian Republik Indonesia (2023) menjelaskan bahwa hewan kurban harus dipelihara dengan prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare), termasuk pemberian pakan, air minum, dan lingkungan yang nyaman selama masa penampungan. Hewan yang tidak mendapatkan asupan nutrisi cukup berisiko mengalami penurunan berat badan dan penurunan kualitas daging sebelum dipotong.

Kebersihan kandang juga menjadi bagian penting yang sering diabaikan. Penumpukan kotoran dan sisa pakan dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri, jamur, dan parasit yang membahayakan kesehatan hewan. Kondisi kandang yang lembap dan kotor juga memicu munculnya lalat serta meningkatkan risiko kontaminasi bakteri sebelum proses penyembelihan dilakukan.

Menurut Warriss (2010), sanitasi yang buruk pada tempat penampungan dapat mempercepat penyebaran penyakit antarsatwa dan meningkatkan risiko kontaminasi pada karkas setelah penyembelihan. Karena itu, pembersihan kandang dan saluran limbah harus dilakukan secara rutin selama masa penampungan berlangsung.

Selain aspek kesehatan fisik, cara penanganan hewan juga menjadi perhatian penting dalam prinsip kesejahteraan hewan. Hewan tidak boleh dipukul, ditarik paksa, atau diseret selama proses pemindahan maupun penempatan di kandang. Perlakuan kasar dapat menyebabkan luka fisik sekaligus meningkatkan stres yang berdampak langsung terhadap kualitas daging.

Stres Turunkan Kualitas Daging Ternak

Gregory (2020) menjelaskan bahwa kondisi stres sebelum penyembelihan menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh hewan, termasuk peningkatan hormon stres dan penurunan cadangan glikogen otot. Kondisi tersebut dapat menyebabkan tekstur daging menjadi lebih keras, warna lebih gelap, dan daya simpan lebih pendek.

Fenomena daging kurban yang cepat bau atau lebih alot sebenarnya sering berkaitan dengan penanganan sebelum dan sesudah penyembelihan yang kurang baik. Hewan yang terlalu lama kepanasan, tidak diberi minum cukup, atau mengalami stres berat cenderung menghasilkan kualitas daging yang lebih rendah dibanding hewan yang dipelihara dengan baik sebelum dipotong.

Pemeriksaan kesehatan hewan selama masa penampungan juga perlu dilakukan secara rutin. Hewan yang menunjukkan gejala sakit seperti demam, luka, diare, lemas, atau gangguan pernapasan sebaiknya segera dipisahkan dari hewan lain untuk mencegah penularan penyakit.

Menurut OIE (2023), pemeriksaan kesehatan sebelum penyembelihan menjadi bagian penting dalam menjamin keamanan pangan asal hewan dan kesejahteraan hewan selama proses kurban berlangsung. Pemeriksaan tersebut membantu memastikan bahwa hewan yang dipotong benar-benar layak untuk dikonsumsi masyarakat.

Jangan Abaikan Perawatan sebelum Penyembelihan

Di beberapa daerah, kesadaran mengenai pentingnya perawatan hewan kurban sebelum penyembelihan masih tergolong rendah. Sebagian masyarakat masih menganggap penampungan hanya sebagai tempat transit sementara tanpa memperhatikan kondisi kesejahteraan hewan secara menyeluruh. Padahal, perawatan yang baik sebelum penyembelihan bukan hanya berkaitan dengan kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut kualitas dan keamanan pangan bagi masyarakat yang akan mengonsumsi daging kurban.

Di tengah meningkatnya kebutuhan hewan kurban setiap tahun, perhatian terhadap perawatan hewan di tempat penampungan menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan. Menjaga hewan tetap sehat, nyaman, bebas stres, dan mendapatkan perlakuan yang baik sebelum disembelih merupakan bagian dari tanggung jawab bersama untuk mewujudkan pelaksanaan kurban yang sehat, aman, dan sesuai prinsip kesejahteraan hewan.

Daftar Pustaka

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan. (2024). Pedoman Pelaksanaan Kesejahteraan Hewan Kurban dan Penanganan Hewan Sebelum Penyembelihan. Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Jakarta.

Grandin, T. (2014). Livestock Handling and Transport (4th ed.). Wallingford, United Kingdom: CABI Publishing.

Gregory, N. G. (2020). Physiology and Behaviour of Animal Suffering. Oxford, United Kingdom: Wiley-Blackwell.

Hafez, E. S. E., & Hafez, B. (2000). Behavior of Farm Animals (5th ed.). Ames, Iowa: Blackwell Publishing.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia. (2023). Pedoman Pemeriksaan Kesehatan Hewan Kurban Menjelang Idul Adha. Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner, Jakarta.

OIE (World Organisation for Animal Health). (2023). Terrestrial Animal Health Code: Animal Welfare and Slaughter of Animals. Paris, France.

Warriss, P. D. (2010). Meat Science: An Introductory Text (2nd ed.). Cambridge, United Kingdom: CABI Publishing.

Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir (Mahasiswa Kedokteran Hewan FIKKIA)

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *