KABAR FIKKIA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga. Michael Krisna Arron Wibowo dan Rava Akmal Taufino, mahasiswa Kedokteran angkatan 2024, mempresentasikan hasil penelitian mereka pada International Student Congress of (bio)Medical Sciences (ISCOMS) 2026 yang berlangsung di University Medical Center Groningen, Belanda, pada 1–5 Juni 2026.
Dalam forum ilmiah internasional tersebut, keduanya memaparkan penelitian di bidang kesehatan masyarakat yang mengkaji faktor penyebab keterlambatan nelayan tradisional Indonesia dalam mencari bantuan medis. Penelitian dilakukan di bawah supervisi dr. Ivan Rahmatullah, MPH., Ph.D. dan berfokus pada perbandingan pengaruh tekanan ekonomi serta norma maskulinitas terhadap perilaku pencarian pengobatan (help-seeking behavior).
Meneliti Hambatan Nelayan Mengakses Layanan Kesehatan
Ide penelitian berawal dari kegiatan field trip mata kuliah Travel Medicine yang dilaksanakan di Muncar, Banyuwangi. Selama kegiatan tersebut, Arron dan Rava mengamati bahwa nelayan merupakan kelompok masyarakat yang rentan mengalami masalah kesehatan, tetapi relatif jarang memanfaatkan layanan kesehatan secara tepat waktu.
Berangkat dari pengamatan tersebut, keduanya menelaah berbagai penelitian terdahulu yang umumnya menempatkan faktor maskulinitas sebagai penyebab utama keterlambatan berobat. Namun, mereka menduga bahwa kondisi ekonomi justru memiliki pengaruh yang lebih besar dalam konteks masyarakat Indonesia.
Untuk menguji hipotesis tersebut, Arron dan Rava melakukan survei cross-sectional terhadap 192 nelayan tradisional di Muncar pada Desember 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi menjadi hambatan utama dalam keputusan nelayan untuk mencari pertolongan medis. Nelayan yang memiliki kekhawatiran terhadap biaya pengobatan, berpenghasilan rendah, atau memiliki beban utang cenderung lebih sering menunda berobat.
Sebaliknya, faktor maskulinitas yang selama ini banyak dikaitkan dengan perilaku pencarian pengobatan menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan. Temuan ini mendorong rekomendasi untuk memperkuat perlindungan finansial masyarakat, termasuk optimalisasi jaminan kesehatan dan pengurangan biaya pengobatan yang harus ditanggung langsung oleh pasien.
“Science means nothing if it never reaches the hands of those who need it the most. May every research we do bring us closer to a world that is just a little more humane,” ujar Rava.
Belajar dan Berjejaring di Panggung Internasional
Selain mempresentasikan hasil penelitian, Arron dan Rava juga mengikuti berbagai workshop, kuliah umum, serta sesi diskusi bersama peneliti dan akademisi dari berbagai negara. Mereka memperoleh pengalaman langsung dalam berbagai aktivitas pembelajaran, mulai dari praktik pembedahan organ hewan hingga simulasi keterampilan yang dibutuhkan di ruang operasi.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga untuk memperluas wawasan, membangun jejaring akademik internasional, sekaligus memahami perkembangan terbaru di bidang kesehatan dan penelitian biomedis.
“Every discovery starts with the courage to ask questions and the persistence to seek answers. Research is not only about finding solutions, but also about embracing the journey of learning,” ungkap Arron.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya meningkatkan akses layanan kesehatan bagi kelompok rentan, serta SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan menyoroti pentingnya sistem perlindungan kesehatan yang lebih inklusif bagi nelayan tradisional di Indonesia.
Penulis: Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra
Editor: Avicena C. Nisa
