FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

FIKKIA Perkenalkan Riset Banyuwangi di Rangkaian Inbound AGE 2026

KABAR FIKKIA – Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga dipercaya menjadi pemateri dalam rangkaian Inbound AGE (Airlangga Global Engagement) 2026. Kegiatan berlangsung secara hybrid pada Senin-Rabu (10–12/08/2026) di Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) sebagai bagian dari forum internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara dan jenjang pendidikan.

Kegiatan hari kedua menghadirkan mahasiswa sarjana, magister, hingga doktoral dari Malaysia, Afghanistan, Timor Leste, dan Ethiopia. Dalam kesempatan tersebut, FIKKIA memperkenalkan sejumlah riset unggulan yang berakar dari potensi Banyuwangi.

Agenda dibuka oleh Wakil Dekan I FIKKIA Universitas Airlangga, Ivan Rahmatullah, dr., MPH., Ph.D. Dalam sambutannya, ia menekankan peran FIKKIA dalam mengembangkan riset yang memiliki jangkauan global.

“FIKKIA telah menunjukkan bahwa Banyuwangi bukan hanya lokasi pembelajaran, tetapi juga laboratorium alam yang menghasilkan penelitian berkelas internasional. AGE menjadi wadah untuk memperkenalkan keunggulan ini kepada dunia,” ujarnya.

Empat Perspektif Riset Banyuwangi

Para dosen FIKKIA menghadirkan empat materi yang merepresentasikan kekuatan riset dan potensi pembelajaran di Banyuwangi. Materi tersebut mencakup konservasi penyu, akuakultur berkelanjutan, kesehatan lingkungan, dan kedokteran perjalanan.

Materi pertama, Banyuwangi Sea Turtle Conservation, disampaikan oleh drh. Ragil Angga Prastiya, M.Si. Materi ini mengangkat konservasi penyu laut sebagai bagian dari riset ekologi dan kesehatan satwa liar.

Banyuwangi dikenal sebagai salah satu wilayah penting bagi habitat dan aktivitas bertelur penyu. Penelitian tersebut tidak hanya membahas aspek konservasi, tetapi juga kesehatan penyu dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga ekosistem pesisir.

Materi kedua bertajuk Sustainable Aquaculture yang disampaikan oleh Farida Mauludia, S.Pi., M.P., M.Sc. Ia menjelaskan penerapan imunonutrisi dalam budidaya perikanan.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa pemberian imunonutrisi dapat meningkatkan daya tahan ikan terhadap penyakit. Pada saat yang sama, penerapannya juga diarahkan untuk menjaga keseimbangan ekosistem akuatik.

Selanjutnya, materi Environmental Health disampaikan oleh Disny Prajnawita, S.KM., M.PH. Ia menyoroti pentingnya pengelolaan lingkungan dalam mencegah penyakit zoonosis.

Kualitas air dan pengelolaan limbah menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan manusia dan hewan. Perspektif tersebut memperkuat penerapan pendekatan One Health dalam pengelolaan lingkungan.

dr. Husada bahas travel medicine di Banyuwangi.

Materi terakhir, Travel Medicine, disampaikan oleh dr. Husada Tsalitsa M. Materi ini membahas perkembangan kedokteran perjalanan dan tantangan kesehatan di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat.

Sebagai daerah tujuan wisata, Banyuwangi menjadi contoh bagaimana suatu wilayah perlu mempersiapkan sistem kesehatan bagi wisatawan. Upaya tersebut mencakup deteksi dini penyakit, edukasi kesehatan, serta kesiapan menghadapi risiko kesehatan lintas wilayah dan negara.

Memperluas Jejaring Akademik Internasional

Keempat materi tersebut menunjukkan bahwa Banyuwangi memiliki potensi besar sebagai ruang pembelajaran dan penelitian. Potensi tersebut mencakup budidaya perikanan berkelanjutan, kesehatan lingkungan, konservasi satwa, hingga kedokteran perjalanan. Mahasiswa internasional yang mengikuti kegiatan juga aktif berdiskusi dan bertukar pengalaman. Interaksi tersebut menciptakan ruang pembelajaran lintas budaya dan disiplin.

Melalui Inbound AGE 2026, FIKKIA tidak hanya memperkenalkan riset berbasis potensi lokal. Kegiatan ini juga memperluas jejaring akademik dan membuka peluang kolaborasi dengan mahasiswa serta akademisi dari berbagai negara.

Keikutsertaan FIKKIA dalam forum internasional tersebut sekaligus memperkuat posisi Banyuwangi sebagai ruang riset yang memiliki relevansi global. Melalui kolaborasi pendidikan dan penelitian, FIKKIA Universitas Airlangga terus mendorong pengembangan ilmu yang berangkat dari potensi lokal untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat dan dunia.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *