FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Pengendalian Infeksi Swollen Head Syndrome pada Unggas

Infeksi virus pada unggas masih menjadi salah satu tantangan penting dalam menjaga kesehatan dan produktivitas peternakan ayam di Indonesia. Salah satu penyakit yang perlu mendapat perhatian adalah Swollen Head Syndrome (SHS) yaitu penyakit respiratori yang disebabkan oleh Avian Metapneumovirus (aMPV) (Zhang et al., 2025). Virus RNA untai tunggal yang termasuk dalam famili Pneumoviridae. Saat ini diklasifikasikan ke dalam empat subtipe utama, yaitu aMPV-A, aMPV-B, aMPV-C, dan aMPV-D (Hatfield et al., 2026). Keberadaan infeksi ini telah dilaporkan di Indonesia dan dapat menyerang berbagai jenis unggas pada umur yang berbeda (Sutrisno et al., 2013).

Berdasarkan data Technical Education and Consultation Medion, 2026, kejadian SHS pada ayam layer dapat ditemukan pada berbagai kelompok umur, dengan proporsi kasus yang cenderung lebih tinggi pada ayam berumur 11-55 minggu. Pada 2025, proporsi kasus tertinggi tercatat pada umur 27-55 minggu sebesar sekitar 28%, diikuti umur 11-17 minggu sebesar 26% dan 18-26 minggu sebesar 23%. Sementara pada 2026 kelompok umur 27-55 minggu tetap menunjukkan proporsi tertinggi, yakni sekitar 28%, disusul umur 11-17 minggu sebesar 24%.

Data tersebut menunjukkan bahwa SHS perlu menjadi perhatian terutama pada ayam yang memasuki fase pertumbuhan akhir hingga masa produksi. Kejadian pada umur lebih muda juga perlu diwaspadai karena pada 2026 proporsi kasus umur 6-10 minggu meningkat menjadi sekitar 20% dibandingkan sekitar 14% pada 2025.

Gejala Klinis

Virus tersebut terutama menyerang sistem respirasi. Manifestasinya dapat berupa sinusitis, pembengkakan kepala (area intramandibular, intrakutan, dan intrasinovial), peningkatan mortalitas, hingga penurunan produksi telur (Nakamura et al., 1997). Ayam dapat menunjukkan suara ngorok, bersin, kelemahan, konjungtivitis, hingga kesulitan bernapas.

Swollen Head Syndrome (SHS) perlu diwaspadai karena gejalanya pada tahap awal dapat menyerupai penyakit pernapasan lain. Kondisi tersebut membuat infeksi virus terkadang terabaikan atau bahkan keliru dicurigai sebagai infeksi bakteri, terutama Infectious Coryza menyebabkan pembengkakan di seluruh area kepala (Al-Hasan et al., 2022).

Kondisi klinis dapat menjadi lebih berat apabila aMPV mengalami koinfeksi dengan agen lain terutama bakteri. Seperti coryza, chronic respiratory disease, colibacillosis, mycotoxicosis, infectious laryngotracheitis (ILT), dan lain-lain. Koinfeksi tersebut dapat memperberat manifestasi penyakit dan mempersulit penanganan di lapangan (Couto et al., 2016; Medion, 2026).

Peneguhan Diagnosa

Pengamatan kondisi ayam, riwayat penyakit, perubahan performa produksi, serta pemeriksaan patologis dapat digunakan untuk mengarahkan dugaan awal. Pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting untuk mengkonfirmasi keberadaan aMPV. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah real-time RT-PCR untuk mendeteksi materi genetik virus sekaligus membantu mengidentifikasi subtipe aMPV (Saeed et al., 2026).

Pemeriksaan dilakukan Target pemeriksaan diarahkan pada gen tertentu terhadap gen G pada aMPV-A dan aMPV-B. Sedangkan gen SH untuk aMPV-C (Zhang et al., 2025). Pemeriksaan serologis seperti ELISA juga dapat digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap aMPV. Isolasi virus dapat dilakukan tetapi aMPV dikenal cukup sulit diisolasi karena periode pelepasan virus setelah infeksi relatif terbatas dan virus memiliki ketidakstabilan pada spesimen diagnostik (Goraichuk et al., 2024). Tak hanya melalui molekuler, penggunaan antibiotik yang tidak efektif dalam pengobatan juga menjadi arah bahwa sumber infeksi berasal dari non bakterial.

Temuan Kasus Swollen Head Syndrome

Salah satu contoh kasus yang ditemukan pada kandang open house wilayah padat populasi ayam layer di Jawa Timur. Kandag berbentuk open house dengan populasi 7.000 ekor ayam usia grower 10 minggu. Pada flok yang terdampak ditemukan ayam dengan gangguan pernapasan, pembengkakan pada area wajah, lesu, anoreksia, dan peningkatan suhu tubuh. Hasil pengukuran menunjukkan suhu tubuh ayam mencapai sekitar 42,5°C.

Sementara itu, diare tidak ditemukan pada ayam yang diamati. Gejala serupa juga teridentifikasi pada beberapa flok sehingga menunjukkan adanya permasalahan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Dari hasil nekropsi ditemukan terdapat masa perkejuan dan lendir di trakea yang menyebabkan penyumbatan pernafasan. Ayam yang terinfeksi akan mengangkat kepalanya untuk mencoba mengambil nafas. Muskulus area pernafasan atas ditemukan massa kekuningan sebagai pertanda infeksi virus.

Penanganan dan Pencegahan

Vaksinasi menjadi salah satu komponen penting dalam pengendalian aMPV. Pengalaman pengendalian aMPV di berbagai wilayah menunjukkan bahwa vaksinasi dapat berperan dalam menekan penyakit dan kerugian ekonomi (Anil et al., 2026). Pada program vaksinasi, vaksin hidup dapat digunakan untuk mempriming respons imun, kemudian dapat dilanjutkan dengan vaksin inaktif sebagai booster, sesuai program dan kebutuhan peternakan (Jin Kim et al., 2025).

Program vaksinasi tidak dapat dibuat secara seragam untuk seluruh peternakan. Pemilihan vaksin dan waktu pemberian perlu mempertimbangkan jenis unggas, umur, kondisi kesehatan flok, tingkat risiko, riwayat penyakit, subtipe virus yang beredar, serta rekomendasi produsen vaksin dan dokter hewan. Oleh karena itu, vaksinasi wajib dilakukan bagi wilayah atau kandang yang memiliki rekam jejak terhadap infeksi maupun telah pernah di vaksin SHS. Disarankan untuk memberikan jeda empat hingga delapan minggu antara dua vaksinasi aMPV hidup (MSD Animal Health, 2026).

Termasuk pengulangan vaksinasi dari kegagalan proses vaksinasi yang dilakukan sebelumnya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekonomi. Karena bila telah terjadi infeksi lapangan akan membuat potensi kematian bagi populasi yang mengalami penurunan daya tahan tubuh.

Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa Gelombang III Pendidikan Profesi Dokter Hewan)

Referensi

Al-Hasan BA, Alhatami AO, Abdulwahab HM, Bustani GS, Hameed MA, Jawad AH (2022). First report of Avian metapneumovirus type B in Iraqi broiler flocks with swollen head syndrome. Veterinary World, 15(1), 16-21. https://doi.org/10.14202/vetworld.2022.16-21.

Hatfield, J. S., Thielen, B. K., & Goyal, S. M. (2026). Avian Metapneumovirus: Virology, Epidemiology, and Insights from a Comparative Analysis with Human Metapneumovirus—A Review. Biomolecules, 16(3), 351.

Nakamura K, Mase M, Tanimura N, Yamaguchi S, Nakazawa M, Yuasa N. Swollen head syndrome in broiler chickens in Japan: Its pathology, microbiology and biochemistry. Avian Pathol. 1997;26(1):139-54.

Zhang J, Tian L, Dittman J, Guo B, Kimpston-Burkgren K, Kalkwarf E, Gadu E, Gauger P, El-Gazzar M, Sato Y. 2025. Isolation and characterization of avian metapneumovirus subtypes A and B associated with the 2024 disease outbreaks among poultry in the USA. J Clin Microbiol. ;63(8):e0033325.

Sutrisno, B., Widyarini, S., Wasito, R., & Wuryastuty, H. (2013). The Pathological Study of Suspected Swollen Head Syndrome in Broiler Chickens. Jurnal Sain Veteriner, 31(1).

Couto, RM., Braga, JFV., Gomes, SYM., Resende, M., Martins, NRS., Ecco, R. 2016.

Natural concurrent infections associated with infectious laryngotracheitis in layer chickens. Journal of Applied Poultry Research. 25(1): 113-128,

Medion.2026. Upaya Strategis Lindungi Ayam dari Swollen Head Syndrome (SHS). URL: https://www.medion.co.id/info-medion/upaya-strategis-lindungi-ayam-dari-swollen-head-syndrome-shs/. Diakses pada 9 Agustus 2026.

Saeed, O.S., Labib, M.A., Gamal, M. 2026. Serologic and molecular evidence of avian metapneumovirus subtypes A and B in unvaccinated broiler breeder flocks in Egypt (2024–2025). BMC Vet Res 22, 273 (2026). https://doi.org/10.1186/s12917-026-05459-y

Goraichuk IV, Torchetti MK, Killian ML, Kapczynski DR, Sary K, Kulkarni A and Suarez DL (2024) Introduction of Avian metapneumovirus subtype A to the United States: molecular insights and implications. Front. Microbiol. 15:1428248.

Anil, A., Ghimire, B., Bhandari, M., & Yadav, K. K. (2026). Avian Metapneumovirus: Current Knowledge, Critical Gaps, and Future Directions in Transmission, Pathogenesis, and Control Across Poultry Systems. Viruses, 18(7), 781. https://doi.org/10.3390/v18070781

Sae-Jin Kim, Hyun-Jin Kim, Yun-Hee Noh, Ho-Keun Won, Seung-Min Hong, In-Joong Yoon, Kang-Seuk Cho. 2025. Preclinical evaluation of a live avian metapneumovirus subtype B vaccine strain with cross-protective efficacy in chickens. Poultry Science. 104(8):105283.

MSD Animal Health. 2026. Vaccination Programs for the Prevention of Avian Metapneumovirus Infection. URL: https://www.avian-pneumovirus.com/control-ampv/vaccination/vaccination-programs/. Diakses pada: 8 Agustus 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *