FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

FIKKIA UNAIR dan PERSPEBSI Gelar Bakti Sosial Intervensi Nyeri bagi Pasien Osteoarthritis

KABAR FIKKIA – Sebanyak 21 pasien dengan nyeri kronis, terutama akibat osteoarthritis (OA), mengikuti bakti sosial intervensi nyeri. Kegiatan diselenggarakan oleh Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) bersama Program Studi Kedokteran Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga. Bakti sosial berlangsung pada Jumat (26/06/2026) di Aula dr. Kusen Adiyono, Dinas Kesehatan Banyuwangi.

Bakti sosial ini menjadi rangkaian lanjutan dari Seminar Ilmiah Manajemen Nyeri untuk Dokter yang digelar pada hari yang sama. Setelah mengikuti seminar, para peserta memperoleh kesempatan mengamati pemeriksaan dan tindakan intervensi nyeri secara langsung. Beberapa peserta juga berperan sebagai asisten dokter spesialis bedah saraf selama prosedur berlangsung.

Kegiatan dipimpin oleh anggota Indonesian Neurosurgical Pain Society (INPS), yaitu dr. Stephanus Gunawan, Sp.BS., Subsp. N-TB(K)., FINPS., FINSS., FIPP., CIPP.; Dr. dr. Made Agus Mahendra Inggas, Sp.BS., F.NTB., F.NF.; serta dr. Victorio, M.Ked., Sp.BS., MARS., FINSS., FINPS. Selama pelaksanaan tindakan, tim didampingi Apt. Ujang Yuyut Bachtiar dan Apt. Meyna Sari dari PT Sonna Medika Jaya yang membantu menyiapkan peralatan medis dan obat-obatan yang digunakan selama prosedur.

Teknologi Portabel Tingkatkan Presisi Intervensi Nyeri

Dalam kegiatan ini, PT Sonna Medika Jaya menyediakan dua perangkat pendukung, yaitu Ultrasonography (USG) portabel dan Radiofrequency Lesion Generator (RF LG2). Kedua teknologi tersebut membantu dokter melakukan tindakan intervensi nyeri secara lebih presisi.

Dokter melakukan pemeriksaan USG untuk mencari sumber nyeri. Sumber: Istimewa

USG portabel digunakan untuk menampilkan struktur saraf, otot, dan sendi secara real time sehingga dokter dapat menentukan lokasi tindakan dengan lebih akurat. Sementara itu, RF LG2 memanfaatkan energi radiofrekuensi untuk menargetkan saraf yang menjadi sumber nyeri sehingga membantu mengurangi keluhan pasien melalui prosedur minimal invasif.

Kombinasi kedua alat tersebut membantu meningkatkan ketepatan tindakan sekaligus meminimalkan risiko terhadap jaringan di sekitar area terapi. Selain itu, desainnya yang portabel memudahkan penggunaan di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.

Tingkatkan Kompetensi Dokter dalam Manajemen Nyeri

Selain memberikan manfaat bagi pasien, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi tenaga kesehatan. Peserta seminar dapat mengamati secara langsung penerapan teknik intervensi nyeri yang sebelumnya dipelajari dalam sesi ilmiah.

Salah satu peserta, dr. Rifqi Yudiar Abrori dari Puskesmas Gitik, berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan.

“Saya berharap pelatihan intervensi nyeri minimal invasif bagi dokter umum di puskesmas dapat terus diselenggarakan sehingga pelayanan kepada pasien osteoarthritis dapat semakin optimal,” ujarnya.

Ketua pelaksana kegiatan, dr. Doohan, Sp.B., Ph.D., mengaku bersyukur atas antusiasme dan respons positif para pasien yang mengikuti bakti sosial tersebut.

“Kami bersyukur para pasien memberikan respons yang baik. Banyak di antaranya merasakan keluhan nyeri pada lutut maupun punggung berkurang setelah dilakukan tindakan intervensi,” katanya.

Melalui kegiatan ini, FIKKIA UNAIR bersama PERSPEBSI tidak hanya menghadirkan layanan kesehatan bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat kompetensi tenaga kesehatan dalam bidang manajemen nyeri. Kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung pelayanan kesehatan yang lebih tepat, aman, dan berkualitas bagi masyarakat Banyuwangi.

Penulis: Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *