KABAR FIKKIA – Paparan suara keras tidak selalu langsung membuat seseorang menyadari bahwa pendengarannya sedang mengalami gangguan. Keluhan seperti telinga berdenging, terasa penuh, atau suara terdengar teredam sering kali dianggap sebagai kondisi sementara. Padahal, gejala tersebut dapat menjadi tanda bahwa telinga telah mengalami tekanan akibat paparan kebisingan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian, terutama di tengah maraknya penggunaan sistem pengeras suara berintensitas tinggi atau yang populer disebut sound horeg. Risiko terhadap pendengaran tidak hanya ditentukan oleh seberapa keras suara yang terdengar, tetapi juga oleh lama dan seberapa sering seseorang terpapar.
Dokter spesialis Telinga, Hidung, Tenggorok, dr. Citra Dwi Novastuti, Sp.T.H.T.B.K.L., menjelaskan bahwa seseorang dapat merasa pendengarannya kembali normal setelah menjauh dari sumber suara keras. Namun, kondisi tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa sistem pendengaran telah sepenuhnya pulih.
Baca juga: Sound Horeg dan Gangguan Pendengaran: Memahami Batas Kemampuan Telinga Manusia

“Pada paparan sound horeg dengan intensitas suara sangat tinggi, seseorang dapat mengalami kerusakan sistem pendengaran. Pendengarannya terasa kembali normal setelah menjauh dari sumber suara. Tetapi bila paparan berlanjut dengan intensitas tinggi, paparan yang lama dan frekuensi yang sering, akan berdampak pada gangguan pendengaran yang irreversible,” jelasnya.
Itu artinya seseorang yang mengalami gangguan pendengaran tidak dapat kembali normal ke kondisi semula.
Pada paparan awal setelah terpapar suara keras, ambang dengar seseorang dapat mengalami peningkatan sementara. Kondisi tersebut dapat membuat telinga terasa seperti budek, penuh, atau berdenging. Keluhan dapat membaik dalam beberapa jam hingga hari. Namun, paparan berulang dalam jangka panjang tetap dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran permanen.
Bagaimana Jika Telinga Berdenging?
Tinnitus atau telinga berdenging menjadi salah satu tanda yang menurut Citra tidak boleh diabaikan setelah seseorang berada di lingkungan yang sangat bising. Selain berdenging, seseorang juga dapat mengalami telinga terasa penuh atau tersumbat, suara terdengar teredam, sulit memahami percakapan, hingga muncul rasa nyeri atau tidak nyaman pada telinga.
“Terutama bila keluhan berlangsung lebih dari 24–48 jam, kondisi tersebut perlu diperhatikan,” katanya.
Risiko juga dapat muncul pada paparan suara yang sangat keras secara tiba-tiba. Kondisi tersebut dikenal sebagai trauma akustik. Menurutnya, paparan suara yang sangat keras dalam satu waktu, seperti ledakan, tembakan, atau berada sangat dekat dengan speaker dengan intensitas ekstrem, dapat mengakibatkan trauma akustik dengan tanda seperti tinnitus maupun penurunan pendengaran yang signifikan dan mendadak.
Perlindungan Pendengaran Manusia
Lalu, apakah telinga manusia memiliki mekanisme perlindungan terhadap suara yang sangat keras? Secara alami, sistem pendengaran memang memiliki keterbatasan dalam menerima energi suara. Namun, mekanisme tersebut tidak berarti manusia aman untuk terus-menerus terpapar kebisingan ekstrem.
“Walaupun setiap kali merasa ‘sudah normal’, paparan berulang dan dalam jangka waktu lama terhadap suara sangat keras dapat meningkatkan risiko Noise-Induced Hearing Loss yang bersifat permanen,” jelas dr. Citra.
Karena itu, perlindungan pendengaran menjadi langkah penting ketika seseorang berada di lingkungan dengan suara yang sangat keras. Penggunaan earplug atau earmuff dapat membantu mengurangi risiko paparan kebisingan. Pada kondisi dengan intensitas suara yang sangat tinggi, keduanya bahkan dapat digunakan secara bersamaan sebagai double hearing protection.
Batasi Paparan Suara Keras Berulang
Selain menggunakan alat pelindung, membatasi paparan juga menjadi langkah penting. Citra mengingatkan masyarakat, khususnya anak muda, untuk lebih memperhatikan kebiasaan mendengarkan musik menggunakan headset maupun berada di lingkungan dengan tingkat kebisingan tinggi.
“Kurangi volume, ingat rule of 60:60, maksimal 60 persen volume dan maksimal 60 menit. Jauhkan diri dari sumber suara bising, batasi lama paparan, terutama bagi yang senang memakai headset atau earphone untuk mendengarkan musik. Gunakan pelindung telinga bila berada di lingkungan yang sangat bising. Menjaga pendengaran sejak muda berarti menjaga kemampuan berkomunikasi dan menikmati suara sampai tua,” pesannya.
Fenomena sound horeg pada akhirnya bukan persoalan apakah telinga manusia memiliki “jenis telinga khusus” yang mampu bertahan terhadap suara ekstrem. Telinga manusia memiliki struktur biologis yang sama dan memiliki keterbatasan dalam menghadapi paparan energi suara. Ketika paparan terlalu tinggi, terlalu lama, dan terlalu sering, risiko kerusakan dapat meningkat.
Kesadaran terhadap kesehatan pendengaran menjadi penting, terutama karena kerusakan pada sel rambut koklea pada manusia tidak dapat beregenerasi. Menikmati musik dan hiburan tentu bukan sesuatu yang harus dihindari. Namun, memahami batas paparan, menjaga jarak dari sumber suara, membatasi durasi, serta menggunakan pelindung telinga menjadi langkah sederhana untuk menjaga kemampuan mendengar dalam jangka panjang.
Penulis: Putri Ajeng Aprisa Simorangkir
Editor: Avicena C. Nisa
