FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Kuliah Tamu Internasional FIKKIA UNAIR Soroti Inovasi Pakan dan Teknologi eDNA Akuakultur

KABAR FIKKIA – Inovasi bioteknologi menjadi salah satu kunci untuk menjawab tantangan efisiensi produksi dan pemantauan lingkungan dalam industri akuakultur. Hal tersebut menjadi fokus Kuliah Tamu Akuakultur Internasional yang digelar Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga (UNAIR), Kamis (27/8/2026).

Bertempat di Aula Mojo FIKKIA UNAIR Banyuwangi, kegiatan tersebut diikuti 65 mahasiswa Akuakultur angkatan 2025. Kuliah tamu bertajuk Aquaculture Biotechnology: Sustainable Feed & Environmental Monitoring menghadirkan Dr. Herryawan Ryadi Eziwar Dyari, Kepala Marine Ecosystem Research Centre (EKOMAR) Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).

Menjawab Tantangan Biaya Pakan

Dalam pemaparannya, Dr. Herryawan menyoroti tingginya biaya pakan yang menjadi salah satu tantangan utama dalam budidaya ikan. Ketergantungan terhadap bahan baku tertentu dapat meningkatkan biaya produksi dan berdampak pada keberlanjutan usaha pembudidaya. Salah satu inovasi yang diperkenalkan ialah aditif pakan berbasis Bioactive Poultry Liver Hydrolysate bernama NUVORIA-TASTE (Aqua). Produk tersebut memanfaatkan produk sampingan hati ayam yang diproses melalui hidrolisis enzimatik selama lima jam.

Proses tersebut memecah protein kompleks menjadi fragmen peptida bioaktif. Hasilnya dapat meningkatkan palatabilitas dan daya cerna pakan sehingga membantu meningkatkan respons makan ikan. Aditif tersebut diaplikasikan menggunakan metode spray-coating pada permukaan pelet. Metode ini bertujuan mengurangi penolakan pakan serta menekan jumlah pakan yang terbuang. Pengurangan pakan terbuang juga dapat membantu menjaga kualitas air dalam sistem budidaya.

NUVORIA-TASTE (Aqua) memiliki kandungan crude protein minimal 20 persen dan crude fat 3,9 persen. Produk tersebut dikembangkan untuk sejumlah komoditas, seperti tilapia merah hibrida, kerapu hibrida, serta ikan kelah atau tengas. Selain produk sampingan hati ayam, Dr. Herryawan juga memperkenalkan pemanfaatan ampas kedelai atau okara. Bahan tersebut dapat dihidrolisis menggunakan enzim protease dan dikembangkan sebagai alternatif bahan baku pengganti tepung ikan (fishmeal).

eDNA untuk Pemantauan Lingkungan Akuakultur

Pembahasan kuliah tamu tidak hanya berfokus pada pakan. Dr. Herryawan juga memperkenalkan Environmental DNA (eDNA) sebagai teknologi modern untuk memantau kondisi lingkungan perairan. Teknologi eDNA memanfaatkan sampel air atau sedimen untuk mendeteksi materi genetik yang dilepaskan organisme. Metode tersebut dapat membantu mendeteksi keberadaan organisme, patogen, hingga perubahan keanekaragaman hayati tanpa harus menangkap organisme secara langsung.

Dalam bidang akuakultur, eDNA berpotensi mendukung deteksi dini agen penyakit, pemantauan kebocoran ikan budidaya, serta pengamatan perubahan ekosistem di sekitar kawasan perikanan.

Dorong Inovasi Akuakultur Berkelanjutan

Antusiasme mahasiswa terlihat melalui diskusi dan sesi tanya jawab sepanjang kegiatan. Berbagai pertanyaan membahas pengembangan bahan pakan alternatif, penerapan teknologi bioteknologi, hingga peluang penggunaan eDNA dalam sistem budidaya lokal.

Melalui kuliah tamu ini, mahasiswa Akuakultur FIKKIA UNAIR memperoleh wawasan mengenai perkembangan riset akuakultur di tingkat internasional. Pengetahuan tersebut diharapkan mendorong mahasiswa untuk mengembangkan inovasi yang mampu meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi dampak lingkungan, dan memperkuat keberlanjutan industri akuakultur. Kegiatan ini sekaligus memperkuat jejaring akademik antara FIKKIA UNAIR dan UKM. Kolaborasi tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan serta peluang pengembangan riset bersama di bidang akuakultur dan bioteknologi lingkungan.

Penulis: Farra Azzarani

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *