KABAR FIKKIA – Dominasi ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys) di berbagai aliran sungai dan danau di Indonesia menjadi indikator serius terjadinya degradasi kualitas lingkungan yang masif. Dosen Manajemen Lingkungan Akuatik prodi Akuakultur FIKKIA UNAIR, Suciyono, S.St.Pi., M.P., mengungkapkan bahwa ledakan populasi spesies invasif ini merupakan cermin dari kegagalan ekosistem dalam mempertahankan keseimbangan biodiversitas lokal.

Data Dominasi Komponen Komunitas Perairan
Di perairan urban yang tercemar, ikan sapu sapu mampu bertahan hidup dengan sangat baik. Ia memiliki toleransi tinggi terhadap rendahnya kadar oksigen, sebuah kondisi yang justru mematikan bagi ikan-ikan asli Indonesia seperti wader atau gabus. Lonjakan populasi yang mencapai puluhan kali lipat dalam belasan tahun terakhir mengonfirmasi bahwa dominansi spesies ini telah mencapai level yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data observasi di Sungai Ciliwung dan beberapa badan air di Jabodetabek, populasi mereka mencatat lonjakan hingga 24 kali lipat dalam kurun waktu 15 tahun. Secara biologis, ikan ini memiliki strategi reproduksi yang agresif, di mana mereka mampu memijah sepanjang tahun dengan fekunditas mencapai 500 hingga 3.000 butir telur per siklus. Data lapangan menunjukkan bahwa di perairan dengan tingkat pencemaran organik tinggi (BOD dan COD tinggi), ikan sapu-sapu mampu menduduki lebih dari 80% total biomassa ikan di area tersebut.
“Data di lapangan menunjukkan bahwa ikan asli seperti wader atau gabus terdesak karena kompetisi ruang dan sumber daya makanan, seperti alga dan detritus,” jelas Suciyono.
Dampak Signifikan Invasif di Perairan
Ketidakhadiran predator alami memicu terjadinya kekosongan relung ekologi yang memutus rantai regenerasi ikan endemik kita. Tanpa adanya pemangsa di perairan Indonesia, populasi mereka melonjak tajam dalam waktu singkat. Dampaknya sangat destruktif bagi ikan lokal karena spesies asing ini tidak hanya berebut ruang dan makanan, tetapi juga kerap mengonsumsi telur serta larva ikan endemik.
Selain ancaman biologis, sisi teknis perikanan menyoroti perilaku nesting atau bersarang ikan ini yang merusak infrastruktur alami sungai. Ikan sapu-sapu jantan memiliki kebiasaan menggali lubang horizontal di dinding sungai dengan kedalaman mencapai lebih dari satu meter. Jika populasi terlalu padat, lubang-lubang tersebut menciptakan porositas pada struktur tanah yang memicu erosi lateral dan pendangkalan sungai, sehingga memperparah risiko banjir.
Ancaman Keamanan Pangan
Di balik potensi pemanfaatannya, risiko bioakumulasi logam berat pada tubuh ikan sapu-sapu menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi. Ditinjau dari aspek keamanan pangan, Suciyono memberikan peringatan keras terkait upaya masyarakat yang mengolah ikan ini menjadi bahan makanan. Sebagai pemakan dasar perairan (benthic feeder), ikan sapu-sapu menyerap polutan organik dan logam berat dari sedimen sungai.
Data laboratorium pada sampel dari sungai-sungai besar menunjukkan kandungan merkuri, timbal, dan kadmium yang jauh melampaui batas aman SNI maupun standar WHO. Akumulasi racun ini dapat menyebabkan kerusakan organ permanen, mulai dari ginjal hingga gangguan sistem saraf pusat. Sebagai langkah mitigasi, diperlukan kolaborasi strategis melalui regulasi ketat dan inovasi pengolahan produk non-konsumsi untuk menekan laju invasi.
Strategi Pengendalian dan Pemusnahan Populasi
Menghadapi tantangan ini, pemusnahan manual saja tidak cukup. Suciyono menekankan pentingnya regulasi terkait pelarangan pelepasan spesies asing ke perairan terbuka. Selain itu, diperlukan inovasi pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk produk non-konsumsi, seperti bahan baku pupuk organik cair atau tepung pakan ternak. Pengendalian populasi ini merupakan perjuangan kolektif untuk menjaga kedaulatan biodiversitas perairan Indonesia agar tidak kalah telak oleh invasi spesies asing.
Penulis: Farra Azzahrani
Editor: Avicena C. Nisa
