KABAR FIKKIA – Di tengah geliat wisata bahari Pantai Pulau Merah yang terus berkembang, kawasan estuari di pesisir Pesanggaran menyimpan dinamika ekologis yang perlu terus dipantau. Menjawab kebutuhan tersebut, sebanyak 65 mahasiswa semester dua Akuakultur FIKKIA turun langsung ke lapangan melalui kegiatan praktikum di kawasan estuari Pantai Pulau Merah, Banyuwangi, Sabtu (09/05/2026). Tidak sekadar menjalankan agenda akademik, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya ilmiah untuk memperbarui data kondisi lingkungan perairan sekaligus menegaskan peran perguruan tinggi dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
Metodologi Pengamatan
Teknis praktikum dirancang detail untuk mendapatkan potret ekosistem yang akurat. Mahasiswa dibagi menjadi beberapa kelompok, di mana setiap kelompok bertanggung jawab atas satu stasiun pengamatan utama yang mencakup lima sub-stasiun. Untuk menjamin validitas data, setiap sub-stasiun dilakukan dua kali ulangan sampling.
Pengamatan diawali dengan pemasangan alat transek untuk mendeteksi keberadaan organisme dan biota benthos yang terkubur maupun yang merayap di dasar perairan pada setiap sub-stasiun. Pengukuran kecepatan arus dilakukan dengan metode bola arus, diikuti dengan pengecekan suhu dengan termometer dan salinitas menggunakan refraktometer untuk memetakan stratifikasi air tawar dan air laut.

Parameter ekologi yang diperiksa meliputi ambang batas Nitrat, Nitrit, Amonia, Fosfat, serta kadar Oksigen terlarut. Data-data ini menjadi indikator vital untuk menentukan apakah lingkungan tersebut masih dalam kategori sehat atau mulai mengalami penurunan.
Temuan Biota dan Konservasi Mangrove
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, menemukan bahwa ekosistem estuari Pulau Merah masih terjaga dengan baik. Hal ini dibuktikan melimpahnya keberadaan benthos dari kelompok bivalvia dan moluska. Mahasiswa berhasil mengidentifikasi organisme dari genus Anadara sp. (kerang darah) dan Donax sp. yang tersebar di area sampling. Kehadiran mangrove juga terbukti efektif memulihkan ekosistem pesisir, meningkatkan keanekaragaman hayati, dan mendukung potensi ekowisata setempat.

Dosen penanggung jawab kegiatan, Alin Asyabil, S.Pi., M.P., menegaskan pentingnya keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini. Beliau menekankan bahwa data lapangan yang diambil mahasiswa merupakan kontribusi nyata bagi ilmu pengetahuan.
“Saya ingin mahasiswa mampu menganalisis hubungan antara parameter lingkungan dengan keberlanjutan biota tersebut. Terutama dengan adanya dukungan proteksi dari ekosistem mangrove yang sedang dipulihkan,” jelas Alin.
Kondisi Estuari Pulau Merah Terkini
Eksplorasi di wilayah estuari Pulau Merah ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Estuari merupakan daerah penyangga (buffer) yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim maupun aktivitas manusia di daratan.
“Kami menerjunkan mahasiswa ke estuari Pulau Merah ini dengan tujuan besar untuk memperbarui data kondisi ekologis di lapangan secara berkala. Kita perlu tahu bagaimana kondisi terkini biota dan kualitas airnya, apakah ada perubahan signifikan akibat aktivitas pariwisata atau faktor alami lainnya,” tegas Alin.
Beliau juga menambahkan bahwa hasil dari praktikum ini nantinya akan diolah menjadi laporan ilmiah yang diharapkan bisa menjadi referensi bagi pengelolaan pesisir di Banyuwangi.
Melalui sinergi antara observasi lapangan dan analisis ilmiah, mahasiswa Akuakultur membuktikan bahwa bangku perkuliahan tidak hanya terbatas di dalam ruangan. Kesadaran untuk terus memantau dan menjaga kondisi alam, seperti yang dilakukan di Pulau Merah, adalah fondasi utama bagi kemajuan industri akuakultur yang berkelanjutan di masa depan.
Penulis: Farra Azzahrani
Editor: Avicena C. Nisa
