FIKKIA NEWS – Bulan Ramadan kemarin, Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan, Ilmu Alam (FIKKIA) Universitas Airlangga menerima inbond dari University of Limoges, Prancis, tepatnya pada 4-6 Maret 2026. Kunjungan yang bertepatan dengan bulan suci tersebut memberikan pengalaman menarik bagi mereka untuk merasakan kultur “Ngabuburit” yang ada di Indonesia.
Berbagai rangkaian kegiatan telah diikuti oleh Margot, Inès, Dorian, dan Romain, selama mereka di Banyuwangi. Mulai dari kunjungan ke fasilitas kesehatan hingga mengeksplorasi destinasi wisata yang ada. Pengalaman baru mereka ditambah juga dengan merasakan suasana Ramadan yang meriah.
Ngabuburit Meramaikan Bazar Ramadhan
Salah satu momen berkesan yang mereka sampaikan adalah saat mengunjungi Pasar Rakyat “Ngerandu Buko” di Pantai Marina Boom. Salah satu pendamping, Rifqi Hanif Nugraha (KU 24), mengajak mereka untuk mencoba suasana khas menjelang berbuka puasa. Mereka mencoba beberapa jajanan yang dijual di bazar Ramadan tersebut.
“That squid is finger-licking good,” cetus Dorian.
Selain itu mereka mengungkapkan bahwa harga jajanan yang diperjualbelikan sangatlah terjangkau namun rasanya sangat lezat, variasi makanan dan minumannya juga beragam.
Trembesi Raksasa Benculuk
Tidak hanya mencoba pengalaman kuliner, mereka juga melakukan kunjungan ke De Djawatan Forest yang ada di Kecamatan Benculuk, setelah melakukan Puspadaya. Mereka terpesona dan menikmati salah satu keindahan alam Banyuwangi tersebut.
“The trees are like duplicates from Avatar Movie’s,” ujar Romain.
De Djawatan dikenal dengan deretan pohon trembesi (Samanea saman) yang berusia 100-150 tahun. Keindahan pohon raksasa tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan pecinta alam.

Keramahan Warga Selama di Banyuwangi
Margot, salah satu mahasiswa yang berbagi pengalaman dan kesan selama mengikuti program inbond. Ia menyampaikan bahwa keramahan masyarakat Indonesia menjadi salah satu hal yang paling berkesan baginya.
“I am happy to be able to experience firsthand the friendliness of the people in Indonesia,” ujarnya.
Ia merasa diterima dengan baik dan nyaman di setiap interaksi yang terjadi.
Setuju dengan Margot, Inès menilai Banyuwangi memiliki potensi yang besar dalam mendukung konsep travel medicine, terutama dengan keberadaan Program Studi Kedokteran di FIKKIA.
Keberagaman destinasi wisata yang masih alami berpadu dengan aspek kesehatan menjadi nilai tambah tersendiri. Perjalanan mendaki Ijen, melihat Blue Fire yang hanya ada 2 di dunia, kawah hijaunya, dan tau bentuk asli dari belerang membayar tuntas lelah yang telah dikeluarkan.
Bagi Rifqi (KU 24), program inbond kali ini menjadi pengalaman yang sangat berharga dan membanggakan. Ia dapat mengasah kemampuan berbahasa asing, sekaligus mendapat teman baru lintas negara. Besar harapan untuk ke depannya semakin banyak program serupa agar pengalaman yang Rifqi rasakan juga dirasakan oleh teman-temannya yang lain.
Melalui rangkaian kunjungan mahasiswa Prancis ke FIKKIA ini tidak hanya menghadirkan pembelajaran akademi, tetapi juga mempererat pertukaran budaya yang memberikan kesan hangat bagi semua pihak yang terlibat.
Penulis: Cantika Anggun Roudhotul Al Zahra
Editor: Avicena C. Nisa
