KABAR FIKKIA – Delapan mahasiswa peminatan Epidemiologi Program Studi Kesehatan Masyarakat FIKKIA Universitas Airlangga memaparkan hasil observasi jentik nyamuk Aedes aegypti. Seminar berlangsung di Aula Puskesmas Klatak pada Kamis (25/6/2026). Kegiatan ini merupakan luaran Mata Kuliah Epidemiologi Tropis. Mahasiswa mengidentifikasi keberadaan jentik sebagai indikator risiko penularan Demam Berdarah Dengue (DBD).
Observasi lapangan berlangsung pada 17 Juni 2026. Lokasi pengamatan berada di Lingkungan Tanjung Solong RT 02 dan RT 03, Kelurahan Klatak. Tim memeriksa 96 rumah untuk mengidentifikasi tempat penampungan air dan keberadaan jentik nyamuk. Hasil pengamatan kemudian dianalisis dan didiseminasikan kepada Puskesmas Klatak.

Seminar dihadiri Kepala Puskesmas Klatak, drg. Rissa. Dosen pengampu Mata Kuliah Epidemiologi Tropis, Ayik Mirayanti, S.KM., M.Kes., juga mengikuti kegiatan tersebut. Warga yang rumahnya masih ditemukan jentik nyamuk turut menghadiri seminar. Aqila Fawziya Mustafa dan Syafira Kurnia mempresentasikan hasil observasi mewakili tim mahasiswa.
Temukan Kepadatan Jentik Kategori Sedang
Hasil observasi menunjukkan masih terdapat jentik Aedes aegypti di lingkungan permukiman warga. Tim memperoleh nilai House Index (HI) sebesar 33,33 persen. Nilai Container Index (CI) mencapai 20 persen. Sementara itu, Breteau Index (BI) tercatat sebesar 39,58 persen. Angka Bebas Jentik (ABJ) mencapai 66,67 persen.
Mahasiswa juga menghitung Density Figure (DF) sebesar lima. Nilai tersebut menunjukkan kepadatan jentik berada pada kategori sedang. Temuan ini mengindikasikan lingkungan masih berpotensi mendukung perkembangbiakan nyamuk penular DBD.
Nilai ABJ juga masih berada di bawah target nasional. Kementerian Kesehatan menetapkan target ABJ minimal sebesar 95 persen. Hasil tersebut menunjukkan pengendalian jentik di masyarakat masih perlu diperkuat.
Berdasarkan hasil observasi, Lingkungan Tanjung Solong RT 02 dan RT 03 masih memiliki potensi risiko penularan DBD. Melalui seminar ini, mahasiswa menyampaikan hasil kajian kepada pemangku kepentingan dan masyarakat. Diseminasi tersebut diharapkan menjadi dasar penguatan upaya pencegahan DBD melalui pemberantasan sarang nyamuk secara berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi mahasiswa yang telah melakukan observasi dari rumah ke rumah. Hasil kegiatan ini menjadi bahan evaluasi bagi kami untuk memperkuat pemantauan kebersihan lingkungan sebagai upaya menekan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD),” ujar Kepala Puskesmas Klatak, drg. Rissa.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu epidemiologi di lapangan, tetapi juga memberikan data yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar penguatan pencegahan DBD di tingkat masyarakat. Tim berharap observasi serupa dapat dilakukan dengan cakupan wilayah yang lebih luas serta mengkaji faktor perilaku masyarakat yang berkaitan dengan keberadaan jentik Aedes aegypti. Hasil tersebut diharapkan mendukung perencanaan program pengendalian DBD yang lebih efektif.
Penulis: Aqila Fawzia Mustafa
Editor: Avicena C. Nisa
