KABAR FIKKIA – Tiga mahasiswa Universitas Airlangga beradu gagasan di Genera-Z Berbakti 2026, kompetisi pengabdian masyarakat yang diselenggarakan Bank Central Asia (BCA). Tim yang terdiri atas Muhammad Adib (KH 23), Regina Saraswati (KESMAS 24), dan Usamah (FST 24) mengusung program Amerta Pertiwi untuk mendukung pemberdayaan Desa Wisata Patakbanteng, Kabupaten Wonosobo.
Program tersebut berfokus pada tiga persoalan utama yang dihadapi masyarakat, yaitu pengelolaan sampah, tingginya prevalensi stunting, dan keterbatasan pasokan listrik. Melalui pendekatan berbasis teknologi dan pemberdayaan masyarakat, tim menawarkan solusi yang saling terintegrasi untuk mendukung pembangunan desa yang berkelanjutan.
Rumah Kompos Kurangi Timbunan Sampah
Berdasarkan survei awal, Desa Patakbanteng menghasilkan sekitar 12 ton sampah setiap minggu. Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menghadirkan sistem pengelolaan sampah berbasis Rumah Kompos.
Masyarakat didorong memilah sampah menggunakan tempat sampah tematik tiga warna sejak dari rumah. Sampah yang telah dipilah kemudian diangkut menggunakan kendaraan modifikasi bernama Motor Gareng yang dirancang mampu melintasi jalan desa yang sempit dan berbukit.
Di Rumah Kompos, sampah organik diolah menggunakan agen dekomposer lokal tanpa pembakaran sehingga menghasilkan pupuk cair atau lindi. Produk tersebut selanjutnya dipasarkan kembali kepada masyarakat dengan harga terjangkau. Sementara itu, sampah anorganik dimanfaatkan kembali melalui kegiatan daur ulang.
Energi Terbarukan Dukung Pertanian Desa
Tim juga membangun Rumah Bibit sebagai pusat pembibitan kentang sekaligus pemanfaatan energi terbarukan. Fasilitas tersebut memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya dan pembangkit listrik tenaga piko-hidro yang berasal dari aliran sungai di desa.
Energi yang dihasilkan digunakan untuk mengoperasikan smart greenhouse berbasis Internet of Things (IoT) dengan sistem penyiraman otomatis. Selain pembibitan kentang, kawasan tersebut juga dimanfaatkan untuk budi daya kelinci. Limbah ternaknya diolah menjadi pestisida alami yang dapat dimanfaatkan petani setempat.
Pemetaan GIS Dukung Pencegahan Stunting
Untuk mendukung penurunan angka stunting yang mencapai sekitar 40 persen, tim mendirikan Rumah Inovasi yang menaungi program Amerta Nadi. Program ini memanfaatkan pemetaan berbasis Geographic Information System (GIS) agar intervensi gizi dapat diberikan kepada keluarga yang paling membutuhkan.
Pelaksanaan program melibatkan Srikandi, jaringan perempuan desa yang terdiri atas kader PKK, kader Posyandu, dan unsur pemberdayaan masyarakat.
“Kader Posyandu dan PKK sebenarnya sudah memahami kondisi gizi anak di desa masing-masing. Namun, selama ini datanya belum terpetakan dengan baik. Melalui pemetaan berbasis GIS di Amerta Nadi, intervensi yang kami lakukan menjadi lebih tepat sasaran,” ujar Regina Saraswati.
Melalui Amerta Pertiwi, tim berharap inovasi yang dikembangkan dapat menjadi model pemberdayaan desa wisata yang berkelanjutan. Program ini tidak hanya menjawab persoalan lingkungan, kesehatan, dan energi, tetapi juga memperkuat peran masyarakat, khususnya perempuan, sebagai penggerak pembangunan desa.
Penulis: Amalia Sofi Ramadanti
Editor: Avicena C. Nisa
