FIKKIA UNAIR

EnglishIndonesian

Mewaspadai Ancaman Hantavirus dan Pentingnya Sinergi One Health

KABAR FIKKIA – Dunia medis global sedang dalam status siaga. Kapal pesiar MV Hondius menjadi tempat bisu penyebaran Andes Virus salah satu strainHantavirus mematikan yang merenggut nyawa penumpangnya. Kejadian ini membuktikan bahwa batas antara kesehatan satwa, lingkungan, dan manusia sangatlah tipis. Hantavirus mampu bertahan di lingkungan yang lembab dan tertutup, menunggu momen ketika manusia tanpa sengaja menghirup partikelnya.

Dosen Kedokteran Hewan FIKKIA Nur Rusdiana, drh., M.Si. membedah bagaimana virus bekerja dan mengapa kolaborasi lintas sektor bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Nur Rusdiana, drh., M.Si.

Menurut pengajar Kesehatan Masyarakat Veteriner itu, rute transmisi Hantavirus sangatlah licin karena proses perpindahan dari hewan ke manusia tidak selalu membutuhkan gigitan langsung. Rute yang paling sering terjadi adalah melalui aerosol partikel urin dan kotoran tikus yang telah mengering, lalu terbawa debu atau angin.

Bahaya nyata muncul saat kita membersihkan gudang, membuka kabin, atau ruangan yang lama tertutup dan menjadi sarang tikus, ujar Dian.

Selain terhirup, virus dapat masuk melalui kontak permukaan yang terkontaminasi ke hidung atau mulut, makanan yang tercemar, hingga gigitan.

Berbeda dengan kebanyakan strain Hantavirus lainnya, strain andes mampu menular antarmanusia. Hal ini dipicu oleh jumlah virus yang tinggi pada saluran pernapasan penderita. Virus tersebut dapat menular melalui liur, cairan hidung, bahkan darah saat pasien batuk atau bersin.

Tikus Got Menjadi Kurir Hantavirus

Risiko zoonosis ini sangat dipengaruhi oleh perilaku ekologi inangnya. Dokter Dian menjelaskan bahwa tikus got(brown rat) adalah pembawa virus paling berbahaya bagi manusia karena mereka hidup berdampingan di area urban. Selokan mampet, sudut pemukiman yang sempit, lembab, dan kotor menjadi titik interaksi antara manusia dan virus.

Penyebaran infeksi Hanta virus. Sumber: Hantavirus and Disease Prevention | UA Cooperative Extension

Selain tikus urban, tikus liar di area ladang dan sawah juga patut diwaspadai sebagai pembawa virus potensial. Lingkungan yang kotor dan manajemen sampah yang buruk menciptakan sirkulasi yang berkesinambungan bagi populasi tikus untuk berkembang biak dan menyebarkan virus secara masif.

Membangun Benteng One HealthTerintegrasi

Menghadapi ancaman yang kompleks, Dian menegaskan bahwa pendekatan tunggal dari satu disiplin ilmu tidak akan efektif. Konsep One Health menjadi kunci melalui kolaborasi rutin yang dapat dilakukan. Sektor kesehatan hewan berfokus pada pemantauan dan pengendalian populasi tikus secara berkelanjutan. Sektor kesehatan manusia bertanggung jawab dalam surveilans, deteksi dini, dan pelaporan kasus. Sektor lingkungan dan pemerintah dapat mengelola sanitasi lingkungan, pengendalian sampah, serta mitigasi edukasi bagi masyarakat luas. Kolaborasi akademisi dengan memperkuat penelitian dan metode deteksi yang lebih cepat.

Dari sisi kedokteran hewan, fokus utama adalah memutus rantai hidup hewan pembawa. Dian menyarankan strategi pengendalian habitat dengan mengurangi sumber makanan dan tempat bersarang.

“Biosekuriti fisik sangat penting, seperti menutup lubang-lubang bangunan dan menyimpan makanan dalam wadah aman,” jelasnya.

Selain itu, masyarakat perlu diedukasi tentang cara pembersihan kotoran tikus yang aman. Jika menemukan kotoran tikus basah atau kering jangan langsung menyapu dan melakukan kontak langsung. Gunakan alat pelindung diri dan semprot kotoran menggunakan desinfektan. Masyarakat bisa juga bisa menyemprotkan cairan pemutih pakaian untuk memastikan virus mati. Hindari pembersihan yang memicu debu beterbangan di area lembab.

Menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi hal penting dalam mencegah kejadian hantavirus.

Penulis: Amalia Sofi Ramadanti

Editor: Avicena C. Nisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *